Segala sesuatu di muka bumi ini tidak satupun sejatinya milik kita. Ia akan hangus, hilang tanpa bekas. Ia akan menguap tanpa pernah teringat rupanya dalam indra penghidu kita. Ia akan melarikan diri dan tidak bisa dimintai pertanggungjawabannya kelak.
Segala sesuatu di dunia ini, sejatinya akan kita tinggalkan. Secantik apapun, sekuat apapun, sehebat apapun, sekaya apapun. Maka relakan, relakan, relakan, ikhlaskan, suatu saat semua akan dimintai pertanggungjawaban cara kita mengurusnya. Bahkan untuk hal kecil nan remeh temeh yang seringnya kita abaikan.
Maka ikhlaskan, ikhlaskan, ikhlaskan. Agar pintu gerbang menuju keabadian itu kita masuki dengan cara terbaik, cara termanis, dengan terang benderang. Kematian yang manis.
Friday, 29 March 2013
Pemilik Jiwa
Kenapa harus kaya?
Kenapa harus pintar?
Kenapa harus cantik?
Kenapa harus gagah?
Ada apa jika tidak kaya?
Mengapa jika tidak pintar?
Apa harus selalu cantik?
Dimana salahnya jika tidak gagah?
Kenapa mempermainkan pemberian Tuhan dengan persepsi?
Mengkotak-kotakkan pemberian Tuhan?
Segala sesuatu pemberian Tuhan sejatinya adalah nikmat, rejeki, anugerah. Persepsi manusia mengkotak-kotakkannya membuat suatu pemberian terasa nikmat dan pemberian lainnya sebagai "musibah". Persepsi manusia menjadikan manusia mengkotak-kotakkan caranya menikmati segala jenis pemberian Tuhan.
Seharusnya susah-senang, sehat-sakit, kaya-miskin itu adalah kondisi yang membuat manusia senantiasa bersyukur dan menikmatinya. Menikmati saat susah, menikmati saat senang, menikmati sakit, menikmati sehat. Bukan karena sehat kita bahagia, tapi karena saat sehat maupun sakit kita menikmatinya maka bahagia itu muncul begitu saja.
Segala sesuatu yang Allah beri sejatinya adalah nikmat, bagaimanapun bentuknya menurut persepsi manusia. Maka nikmati dengan syahdu. Karena Allah adalah sesuai persangkaan kita. Karena Allah yang mengetahui apa yang sesungguhnya baik walau terlihat tidak baik, dan apa sesungguhnya yang tidak baik meskipun terlihat begitu indah.
Jangan biarkan persepsi menyempitkan dan mengecilkan Allah yang Mahabesar. Pemilik langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Pemilik jiwa kita.
Kenapa harus pintar?
Kenapa harus cantik?
Kenapa harus gagah?
Ada apa jika tidak kaya?
Mengapa jika tidak pintar?
Apa harus selalu cantik?
Dimana salahnya jika tidak gagah?
Kenapa mempermainkan pemberian Tuhan dengan persepsi?
Mengkotak-kotakkan pemberian Tuhan?
Segala sesuatu pemberian Tuhan sejatinya adalah nikmat, rejeki, anugerah. Persepsi manusia mengkotak-kotakkannya membuat suatu pemberian terasa nikmat dan pemberian lainnya sebagai "musibah". Persepsi manusia menjadikan manusia mengkotak-kotakkan caranya menikmati segala jenis pemberian Tuhan.
Seharusnya susah-senang, sehat-sakit, kaya-miskin itu adalah kondisi yang membuat manusia senantiasa bersyukur dan menikmatinya. Menikmati saat susah, menikmati saat senang, menikmati sakit, menikmati sehat. Bukan karena sehat kita bahagia, tapi karena saat sehat maupun sakit kita menikmatinya maka bahagia itu muncul begitu saja.
Segala sesuatu yang Allah beri sejatinya adalah nikmat, bagaimanapun bentuknya menurut persepsi manusia. Maka nikmati dengan syahdu. Karena Allah adalah sesuai persangkaan kita. Karena Allah yang mengetahui apa yang sesungguhnya baik walau terlihat tidak baik, dan apa sesungguhnya yang tidak baik meskipun terlihat begitu indah.
Jangan biarkan persepsi menyempitkan dan mengecilkan Allah yang Mahabesar. Pemilik langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Pemilik jiwa kita.
Wednesday, 27 March 2013
Langit dan Bumi
Namaku Rindu. Aku berjalan menyusuri langit. Langit tanpa tiang. Iya, langit yang tanpa tiang ini tersangga begitu gagahnya. Ia berubah menjadi hitam pekat saat hendak mengamuk dan meniupkan anginnya kencang-kencang. Lalu ia berubah menjadi biru, warna yang sangat jernih. Indah, sejuk, menyegarkan. Lalu jika beruntung ia dapat melukis pelangi yang ujungnya bahkan tak kan pernah bisa kau sentuh.
Namaku Rindu. Aku kini berjalan menyusuri bumi. Iya, Bumi. Tempat dimana lautan, pegunungan terhampar. Luas dan tak terbatas. Pernahkah engkau menyusuri satu titik lalu kembali ke titik mula? Jika pernah seberapa lama kau perlukan waktu untuk menyusurinya hingga kembali ke titik awal?
Namaku Rindu. Aku kini terdiam. Diam memandangi langit. Menikmati bumi. Mengapa aku dinamakan Rindu? Mungkin karena rinduku pada langit. Mungkin karena rinduku di bumi. Mungkin karena berada di antara dua titik dan tetap murni itu tidak mudah. Murni seperti langit. Murni walaupun berada di bumi.
Namaku Rindu.
Dan aku tahu.
Yang aku rindukan adalah bentuk termurniku. Seperti langit, walaupun sedang berada di bumi.
Namaku Rindu. Aku kini berjalan menyusuri bumi. Iya, Bumi. Tempat dimana lautan, pegunungan terhampar. Luas dan tak terbatas. Pernahkah engkau menyusuri satu titik lalu kembali ke titik mula? Jika pernah seberapa lama kau perlukan waktu untuk menyusurinya hingga kembali ke titik awal?
Namaku Rindu. Aku kini terdiam. Diam memandangi langit. Menikmati bumi. Mengapa aku dinamakan Rindu? Mungkin karena rinduku pada langit. Mungkin karena rinduku di bumi. Mungkin karena berada di antara dua titik dan tetap murni itu tidak mudah. Murni seperti langit. Murni walaupun berada di bumi.
Namaku Rindu.
Dan aku tahu.
Yang aku rindukan adalah bentuk termurniku. Seperti langit, walaupun sedang berada di bumi.
Saturday, 24 November 2012
Tanpa Mereka
Tak mudah untuk berlari. Tapi kita tetap mampu berjalan. Walau pelan, walau tertatih. Karena langkah kecil itu akan selalu menapak satu persatu. Tak perlu berlari karena waktu telah menghentikan putarannya untuk kita. Bukan karena kita tak mampu berlari. Tapi karena kita memilih menguasai waktu dalam langkah-langkah kecil kita. Kita: aku dan kamu. Tanpa mereka.
Thursday, 4 October 2012
Wednesday, 3 October 2012
Membekukan Waktu
Jarak membekukan waktu. Karena sejatinya setiap orang berubah. Kenangan membuat mereka tetap sama dalam benak kita. Kenangan membuat waktu tak pernah beranjak. Dan jarak menyempurnakannya. Ia membekukannya.
Monday, 27 August 2012
Jangan Marah
Jangan marah. Untuk apa marah? Kenapa marah?
Karena kesal? Sedih? Luka? Takut? Kecewa?
Jangan marah. Untuk apa marah?
Untuk memberitahu dirimu sedang kesal? Pada siapa? Apa mereka akan turut merasakan kekesalanmu? Apa mereka akan paham kesedihanmu? Apa mereka mengerti arti lukamu? Apa membuat mereka merasakan takut yang sama? Atau untuk berteriak pada mereka bahwa kamu kecewa?
Jangan marah. Itu tidak memberimu apapun juga.
Bersabarlah.
Untuk kebaikan di balik semua rasa kesal, rasa sedih, luka, ketakutan, kekecewaan.
Bersabarlah, untuk kebaikan yang akan menghampiri sesaat lagi.
Jangan marah.
Kamu hanya perlu bersabar sedikit lagi saja.
Karena kesal? Sedih? Luka? Takut? Kecewa?
Jangan marah. Untuk apa marah?
Untuk memberitahu dirimu sedang kesal? Pada siapa? Apa mereka akan turut merasakan kekesalanmu? Apa mereka akan paham kesedihanmu? Apa mereka mengerti arti lukamu? Apa membuat mereka merasakan takut yang sama? Atau untuk berteriak pada mereka bahwa kamu kecewa?
Jangan marah. Itu tidak memberimu apapun juga.
Bersabarlah.
Untuk kebaikan di balik semua rasa kesal, rasa sedih, luka, ketakutan, kekecewaan.
Bersabarlah, untuk kebaikan yang akan menghampiri sesaat lagi.
Jangan marah.
Kamu hanya perlu bersabar sedikit lagi saja.
Monday, 18 June 2012
anak perempuan
sebaiknya berhenti mengisahkan kisah putri yang bertemu pangeran impian dan bahagia selamanya dalam satu ikatan pernikahan pada anak perempuan. sebaiknya ceritakan bagaimana Katniss survive dalam Hunger Games dan jadi ikon perjuangan. anak perempuan harus punya mimpi lebih besar dari sekedar menikah dengan pangeran pujaan hatinya. itu hanya salah satu bentuk kebahagiaan, bukan yang utama. bahagia itu adalah ketika ia menemukan siapa dirinya, apa yang diinginkannya, apa yang akan dilakukannya. bahagia itu adalah ketika ia menjadi diri sendiri, bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.
dirimu, cintaku
aku menatap dirimu
tersenyum
penuh ceria
tertawa
dan tak pernah berduka
aku menatap dirimu
bola mata yang menawan
senyum indah nan rupawan
aku menatap dirimu
sehangat mentari
seindah pelangi
aku menatap cinta
dirimu
cintaku
tersenyum
penuh ceria
tertawa
dan tak pernah berduka
aku menatap dirimu
bola mata yang menawan
senyum indah nan rupawan
aku menatap dirimu
sehangat mentari
seindah pelangi
aku menatap cinta
dirimu
cintaku
tentang hidup
apa yang paling penting dalam hidup ini?
cinta?
harta?
tidak.
yang paling penting dalam hidup ini, adalah diri kita sendiri. karena disadari atau tidak, diakui atau tidak, yang kita lakukan dalam hidup ini sejatinya adalah untuk diri sendiri, karena diri sendiri.
cinta?
harta?
tidak.
yang paling penting dalam hidup ini, adalah diri kita sendiri. karena disadari atau tidak, diakui atau tidak, yang kita lakukan dalam hidup ini sejatinya adalah untuk diri sendiri, karena diri sendiri.
Thursday, 19 April 2012
Tidak ingin apapun
Salahkah jika tidak berambisi dalam hidup? Salahkah jika hanya menginginkan hal-hal sederhana dalam hidup? Hal sederhana seperti sehat dan bahagia.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Iri
Ingin rasanya berada bersisian, berdampingan dengan teman-teman di lapangan yang sedang berjibaku tak kenal henti. Mereka diberi kesempa...
-
komik makin mahal aja, dah ga sanggup lagi dah belinya :P, jalan cerita hampir sebagian besarnya sama, meski cara menyajikannnya beda-beda, ...
-
Tanganku hanya dua. Yang setiap harinya kupakai untuk menghidupi mereka dan membuat diriku juga tetap “hidup”. Jemari ini rasanya kian hari ...