"Ini tragedi", ujar ibu sembari memeluk tubuhku erat.
"Entah kemana lenyapnya harapan, impian dan kebersamaan kita? Apa yang tuhan ingin ajarkan? Bukankah kita berusaha mengikuti segalanya dengan patuh. Mengapa kita?", Ibu tak kuasa meredam segalanya. Air matanya tumpah mengikuti gejolak kesedihannya.
***
Aku tak mengerti apa yang terjadi, yang aku tahu ayah telat pulang. Biasanya sebelum hari ulang tahunku ayah selalu saja menyempatkan diri meneleponku dari kota yang sedang ia kunjungi. Dulu ayah pernah bilang ia sedang di pantai losari, dan menanyakan padaku ibu menyiapkan apa untuk ulang tahunku esok. Lain waktu, ayah sedang membelikan otak-otak asli buatan palembang, kata ayah ibu selalu ngidam ini, jadi meski esok aku yang berulang tahun, ayah minta ijin padaku untuk membelikan hadiah untuk ibu juga.
Dan sekarang ulang tahunku sudah berlalu tiga hari yang lalu. Tiap kali telepon berdering aku berharap itu ayah. Tapi tak satupun suara yang ada di seberang sana yang menyapaku ceria dan bercerita padaku, meski dering telepon dirumahku selalu bergema memenuhi ruangan akhir-akhir ini. Hari ulang tahunku pun kelabu. Ibu enggan merayakannya. Padahal kini usiaku genap 6 tahun. Kata ibu, kita harus banyak berdoa, untuk ayah, juga untuk diriku, karena kini mungkin aku akan jadi laki-laki satu-satunya di keluarga ini, pesan ibu dengan mata yang pilu.
Lagi-lagi aku tak mengerti, aku tak memahami maksud ibu. Yang terekam di kepalaku adalah ulang tahun kelabu, tanpa ayah, tanpa keceriaan, tanpa kejutan hadiah. Dan aku ingin bertemu ayah, bermain bersama ayah, mengunjungi bandara atau mencoba topi pilotnya.
Meski berusaha berhati-hati menanyakan kedatangan ayah pada ibu, tetap saja tanggapan ibu tak biasa. Dulu ibu selalu berkata: "sabar sayang, segera ayahmu akan datang", tiap kali kutanya kapan ayah akan pulang. Kini ibu lebih banyak diam. Awalnya aku tak peduli tapi lama kelamaan aku pikir ibu sekarang tak menyukai pertanyaanku. Jadi kini aku selalu berhati-hati menanyakan ayah pada ibu.
Malam ini aku sangat rindu ayah. Kuhampiri ibu yang masih bersujud di atas sajadah. Ibu sedang menangis, bahunya terguncang lembut. Aku menunggu ibu selesai solat dan perlahan aku bertanya pada ibu tentang ayahku. Ibu terdiam, hanya terdiam. Lalu ibu berkata: ".. moga Allah jamu ayah disurga-Nya, doakan ayah ya nak". Aku lihat ibu tersenyum meski rapuh. Ada kepasrahan disana. Tapi aku tak begitu mengerti.
Ku kecup pipi ibu dengan lembut, dan aku berbisik perlahan: "bu, aku juga ingin ke surga menemui ayah".
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Sunday, 14 January 2007
Thursday, 11 January 2007
cinta sampai mati
Ia pandangi lagi cincin yang melingkar manis di jemarinya. Entah mengapa pernikahan seperti sesuatu yang menakutkan baginya. Bermacam skenario mulai membayangi. Ia takut hatinya sakit, teramat tersakiti, hingga pernikahan menjadi sesuatu yang mengerikan.
Calonnya itu lelaki yang baik, santun, dan sangat pintar. Ia tertarik pada lelaki itu saat perbincangan dengannya pertama kali. Ia telah mengenalnya, jauh-jauh hari sebelumnya, tapi pada saat pertemuan yang melibatkan diskusi yang cukup serius, hatinya terpikat pada laki-laki bermata elang itu.
Tidak ada yang salah dengannya. Laki-laki itu nyaris sempurna. Wajah tampan, karier sukses, keluarga yang harmonis. Hampir sempurna. Dan kesempurnaan itu bagai karunia untuknya. Tak boleh tangan-tangan wanita lain menyentuhnya, tak boleh suara-suara centil menyapanya. Ia hanya ingin lelaki itu untuknya, hanya untuknya.
Dan kini kegundahannya bertambah. Ia semakin mencintai lelaki itu. Menjadikannya candu. Membuatnya berteman sepi. Ia tak pernah ingin berbagi lelaki itu dengan wanita lain –selain ibu dan saudara kandungnya.
Ia semakin larut dalam kekhawatiran saat pernikahannya menjelang. Ia takut tersakiti. Ia tak ingin cintanya yang teramat besar kandas di lembaga sosial yang bernama pernikahan. Ia tersudut oleh ketakutannya sendiri. Ia tak ingin lelaki itu akan berpaling, meninggalkannya, melupakannya, seperti lelaki-lelaki purna yang tidak pernah tahu diri itu. Ia takut lelaki itu mengkhianati cintanya dan pergi dengan wanita lain, seperti penguasa-penguasa yang menikahi wanita yang lebih muda saat kesuksesan melanda mereka.
Ia takut, takut pada luka yang perih, teramat perih. Karena jika luka itu ada, ia akan ada dihatinya, ruang rapuh dalam dirinya. Dan kekhawatirannya menjadi-jadi, bukan karena ketidakpercayaannya pada lelaki itu, tapi pada cintanya yang begitu besar. Mengapa cinta, mengapa rasa sedemikian menyiksa?
Ia pandangi lagi cincin yang melingkar di jemarinya: Tuhan, tolong aku agar bisa kumencintainya dengan sederhana, dengan balutan ikhlas, dengan tenang, karena ia milik-Mu, karena Kau yang menjaganya untukku, lirih pintanya.
***
Pernah suatu ketika ia berusaha untuk mengurangi cintanya pada lelaki itu, namun sungguh hatinya tak bisa untuk tak jujur. Ia tahu, ia tak kuasa atas segala sesuatu. Ia tak punya andil membolak-balikkan hati, hatinya dan hati lelaki itu. Ia hanya ingin mencintai lelaki itu dengan sederhana, tanpa kecewa, tanpa sepi, tanpa tersiksa, cinta sampai mati.
Calonnya itu lelaki yang baik, santun, dan sangat pintar. Ia tertarik pada lelaki itu saat perbincangan dengannya pertama kali. Ia telah mengenalnya, jauh-jauh hari sebelumnya, tapi pada saat pertemuan yang melibatkan diskusi yang cukup serius, hatinya terpikat pada laki-laki bermata elang itu.
Tidak ada yang salah dengannya. Laki-laki itu nyaris sempurna. Wajah tampan, karier sukses, keluarga yang harmonis. Hampir sempurna. Dan kesempurnaan itu bagai karunia untuknya. Tak boleh tangan-tangan wanita lain menyentuhnya, tak boleh suara-suara centil menyapanya. Ia hanya ingin lelaki itu untuknya, hanya untuknya.
Dan kini kegundahannya bertambah. Ia semakin mencintai lelaki itu. Menjadikannya candu. Membuatnya berteman sepi. Ia tak pernah ingin berbagi lelaki itu dengan wanita lain –selain ibu dan saudara kandungnya.
Ia semakin larut dalam kekhawatiran saat pernikahannya menjelang. Ia takut tersakiti. Ia tak ingin cintanya yang teramat besar kandas di lembaga sosial yang bernama pernikahan. Ia tersudut oleh ketakutannya sendiri. Ia tak ingin lelaki itu akan berpaling, meninggalkannya, melupakannya, seperti lelaki-lelaki purna yang tidak pernah tahu diri itu. Ia takut lelaki itu mengkhianati cintanya dan pergi dengan wanita lain, seperti penguasa-penguasa yang menikahi wanita yang lebih muda saat kesuksesan melanda mereka.
Ia takut, takut pada luka yang perih, teramat perih. Karena jika luka itu ada, ia akan ada dihatinya, ruang rapuh dalam dirinya. Dan kekhawatirannya menjadi-jadi, bukan karena ketidakpercayaannya pada lelaki itu, tapi pada cintanya yang begitu besar. Mengapa cinta, mengapa rasa sedemikian menyiksa?
Ia pandangi lagi cincin yang melingkar di jemarinya: Tuhan, tolong aku agar bisa kumencintainya dengan sederhana, dengan balutan ikhlas, dengan tenang, karena ia milik-Mu, karena Kau yang menjaganya untukku, lirih pintanya.
***
Pernah suatu ketika ia berusaha untuk mengurangi cintanya pada lelaki itu, namun sungguh hatinya tak bisa untuk tak jujur. Ia tahu, ia tak kuasa atas segala sesuatu. Ia tak punya andil membolak-balikkan hati, hatinya dan hati lelaki itu. Ia hanya ingin mencintai lelaki itu dengan sederhana, tanpa kecewa, tanpa sepi, tanpa tersiksa, cinta sampai mati.
Friday, 5 January 2007
desa yang hilang
Dahulu kala di negeri khatuliswa terdapatlah sebuah pedesaan yang asri. Indah nian. Setiap hari para warganya saling menyapa diantara hangat mentari dan kicau burung. Udara pagi selalu memberi semangat pada warga yang bersiap pergi ke sawah, pada para wanita yang mencuci di sungai, dan anak kecil yang berlarian di jalan-jalan setapak. Kepala desa tak perlu bersusah payah memikirkan kesejahteraan desanya, rejeki mengalir tiap harinya, tak henti-henti. Mulai dari panen yang selalu sukses tiap musimnya hingga para pemuda desa yang berkesempatan menempuh pendidikan di kota.
Hari berganti, tahun berlalu. Penduduk desa masih larut dalam kesederhanaan yang membalut. Kepala desa berencana membuat festival untuk mensyukuri nikmat yang begitu banyak bagi warga desanya. Persiapan pun digelar, seluruh desa merencanakan kemeriahan yang luar biasa. Aneka hiasan beragam warna tergantung di sudut-sudut desa, kendaraan hias sedang di desain oleh anak-anak, perkumpulan wanita memasak dalam porsi yang banyak. Festival perayaan itu akan dilaksanakan seminggu kemudian.
Kini tibalah saatnya, kepala desa memberikan sambutannya: “Sudah sepatutnya kita bersyukur, desa kita selalu dilimpahi oleh nikmat dari Allah. Anak cucu kita yang sehat, alam yang bersahabat. Hari ini kita berkumpul tidak untuk menghabiskan kenikmatan itu dalam kegembiraan yang berlebihan. Hari ini supaya kita mengingat nikmat yang diberi dan bersyukur karenanya. Semoga Allah selalu memberikan keridhaannya pada kita”. Warga desa mendengarkan dengan seksama, lalu alunan doa mulai terdengar dipimpin oleh kepala desa. Dan wargapun bersuka cita.
Kemakmuran desa tidak hanya diketahui oleh penduduknya saja. Masyarakat kota pun mulai mencium kesejahteraan ini. Penghasilan penduduk desa yang biasa saja namun hidup berkecukupan mulai mendatangkan rasa ingin tahu masyarakat kota. Forum-forum kemudian digelar oleh pengusaha-pengusaha tamak yang melihat suatu potensi kekayaan disana. Diskusi-diskusi mengenai desa itu menjadi topik sehari-hari, baik saat rapat atau break makan siang. Hingga satu keputusan dicapai: target ditetapkan dan tim bergerak.
Kepala desa menyambut baik rombongan yang berkunjung ke desanya, bapak-bapak berdasi dengan pakaian yang cling. Keramahan penduduk desa tak sedikitpun menyimpan kecurigaan. Mereka menjawab dengan lugas bagaimana hidup mereka di topang selama ini, bagaimana alam memanjakan mereka. Dengan hati riang anak-anak kecil menunjukkan tempat-tempat kerja ayah mereka, dengan malu-malu para wanita menyuguhkan makanan. Sungguh sambutan yang hangat.
***
Perdebatan kini tengah terjadi diantara para pengusaha setelah melihat kondisi desa yang indah. Ada yang berniat menjadikannya tempat wisata dengan mengimingi pekerjaan bagi penduduk desa. Ada yang menginginkan mendirikan perusahan energi dengan mengeruk perut bumi tepat di wilayah desa, dan beragam keinginan lainnya. Hari demi hari mereka menggelar rapat dengan hitungan untung rugi yang selalu mengemuka. Akhirnya diambil satu kesepakatan, akan didirikan perusahaan energi dengan iming-iming suplay listrik bagi desa. Keesokan harinya mereka bergegas dengan sejumlah perencanaan yang tertuang dalam lembaran-lembaran kertas.
Kepala desa mengamati rencana bangun perusahaan yang akan ditempatkan di ujung desa. Ia mempelajari tiap detail proposal itu. Ia juga menimbang mengenai listrik yang akan segera mencerahkan malam hari masyarakat desa. "Maaf bapak-bapak sekalian, yang bapak-bapak ajukan adalah menyangkut seluruh kepentingan warga desa. Saya minta waktu untuk memusyawarahkan segala sesuatunya dengan warga”, kepala desa menutup pertemuan mereka dengan bijak.
Seluruh warga desa membicarakan kedatangan kedua rombongan dari kota itu. Mereka tak sabar untuk segera berkumpul di balai desa nanti malam untuk mendengarkan penjelasan sang tetua, kepala desa mereka.
Riuh rendah suara warga memenuhi seluruh ruang balai desa setelah mendengar penjelasan sang tetua. Warna muka mereka terlihat sangat antusias, anak-anak kecil yang ikut dengan orang tuanya tampak senang sekali mendengar bahwa malam mereka akan segera terang. Para wanita bergumam tak perlu bersusah payah menyalakan perapian di pagi hari. Singkat kata, warga desa menyambut baik rencana pengembangan desa mereka.
Hingga 10 bulan lamanya pendirian perusahaan itu menyita perhatian warga desa. Aktivitas pagi mereka sekarang bertambah dengan obrolan mengenai lapangan kerja dan listrik desa. Pengguntingan pita peresmian perusahaan dihadiri oleh seluruh warga dengan hati yang suka cita.
Satu bulan setelah perusahaan itu beroperasi, warga kini sudah dapat menikmati terangnya gelap malam. Anak-anak kecil tak takut untuk keluar rumah lagi, para wanita dapat mengerjakan jahitan hingga larut malam. Kesejahteraan warga bertambah, kepala desa pun senang.
Perusahaan itu beroperasi siang dan malam, menyedot jumlah tenaga kerja yang besar. Para pria kini tak lagi menghabiskan waktu di ladang. Puluhan hektar sawah mereka dijual untuk dijadikan kompleks perumahan pegawai perusahaan dengan jabatan yang lebih tinggi. Lapangan golf direncanakan untuk dibangun, mini market telah bertengger dalam kantor perusahaan. Wajah desa kini berubah. Anak-anak kecil mulai bermain pistol-pistolan dan pesawat terbang. Para wanita kini bergincu tebal. Dan kepala desa tak lagi mengkoleksi batik.
Wajah desa kini telah berubah, tapi alam masih tetap setia memanjakannya meski kesederhanaan tak lagi melekat disana, meski ketamakan mulai muncul di garis-garis wajah mereka.
Bumi dikeruk habis-habisan hingga sekarat. Penduduk desa telah lupa.
***
Tawa centil para wanita dan bujuk rayu pria di keremangan desa tiba-tiba terhenti saat sebuah ledakan muncul dari dalam kantor perusahaan. Para wanita bersembunyi dan para pria yang merasa menjadi superhero mendatangi sumber ledakan, tiba-tiba muncul ledakan kedua dan merekapun berjatuhan.
Peristiwa tadi malam menjadi gunjingan pagi di desa. Kepala desa mewakili warganya meminta kejelasan dari pihak perusahaan. Namun kepiawaian dan kelihaian mengolah kata membuat para warga memaklumi kejadian itu dan kemudian kembali ke rumah masing-masing tanpa kekhawatiran yang bergelayut. Namun tidak demikian halnya yang terjadi dalam kantor perusahaan, para pekerja panik, ledakan tadi malam rupa-rupanya telah membuat kebocoran pipa dan menyebabkan lumpur panas yang entah dari mana asalnya menyembur keluar. Namun mereka diminta tutup mulut jika tak ingin dipecat.
Satu bulan berlalu dari rencana penargetan penyelesaian dan penanggulangan masalah semburan lumpur. Namun tidak ada hasil yang terlihat. Semburan lumpur terlampau banyak hingga menggenangi sawah-sawah warga yang tersisa. Dan panen musim ini gagal. Puluhan kepala keluarga mengalami kerugian yang sangat besar. Sedangkan penduduk desa lainnya harus membeli beras dengan harga yang sangat mahal dari desa tetangga mereka. Para pekerja ditangguhkan gajinya karena dana besar tersedot untuk mengatasi semburan lumpur. Listrik kini mulai turun naik, hidup sesekali dan mati berulang-ulang kali. Paceklik mendatangi desa.
Dua bulan berlalu, tetap tak ada perubahan. Semburan lumpur meluas dan mulai menggenangi lantai-lantai rumah warga. Pihak perusahaan sibuk menggelar rapat-rapat darurat. Warga pun merugi.
Lima bulan berlalu dan genangan lumpur masih tetap tinggi dan terus bertambah tinggi. Kini bukan hanya lumpur yang menjadi masalah, kelaparan dan penyakit mulai bermunculan. Kepala desa kemudian menyarankan agar warganya mengungsi untuk sementara waktu hingga masalah ini dapat teratasi. Beberapa penduduk terlihat mulai sibuk berbenah, beberapa diantaranya masih bertahan untuk tetap tinggal di tanah kelahirannya.
***
Kali ini kepala desa yang dulunya bijak itu salah perhitungan. Masalah ini tak kunjung selesai. Balai desa yang dulu merupakan bangunan tertinggi hanya tinggal terlihat atapnya saja karena kini tergenang lumpur. Matahari yang hangat sekarang tak bisa lagi menemukan rimbun pepohonan di pinggir kali. Kicau burung tak lagi jadi harmoni pagi hari. Penduduk desa tak lagi bisa menikmati alamnya, mereka kini hanya bisa memandang sedih pada tanah kelahirannya. Desa yang indah itu kini jadi kubangan lumpur. Desa itu kini hilang. Bumi yang sedang sekarat yang menelannya.
Hari berganti, tahun berlalu. Penduduk desa masih larut dalam kesederhanaan yang membalut. Kepala desa berencana membuat festival untuk mensyukuri nikmat yang begitu banyak bagi warga desanya. Persiapan pun digelar, seluruh desa merencanakan kemeriahan yang luar biasa. Aneka hiasan beragam warna tergantung di sudut-sudut desa, kendaraan hias sedang di desain oleh anak-anak, perkumpulan wanita memasak dalam porsi yang banyak. Festival perayaan itu akan dilaksanakan seminggu kemudian.
Kini tibalah saatnya, kepala desa memberikan sambutannya: “Sudah sepatutnya kita bersyukur, desa kita selalu dilimpahi oleh nikmat dari Allah. Anak cucu kita yang sehat, alam yang bersahabat. Hari ini kita berkumpul tidak untuk menghabiskan kenikmatan itu dalam kegembiraan yang berlebihan. Hari ini supaya kita mengingat nikmat yang diberi dan bersyukur karenanya. Semoga Allah selalu memberikan keridhaannya pada kita”. Warga desa mendengarkan dengan seksama, lalu alunan doa mulai terdengar dipimpin oleh kepala desa. Dan wargapun bersuka cita.
Kemakmuran desa tidak hanya diketahui oleh penduduknya saja. Masyarakat kota pun mulai mencium kesejahteraan ini. Penghasilan penduduk desa yang biasa saja namun hidup berkecukupan mulai mendatangkan rasa ingin tahu masyarakat kota. Forum-forum kemudian digelar oleh pengusaha-pengusaha tamak yang melihat suatu potensi kekayaan disana. Diskusi-diskusi mengenai desa itu menjadi topik sehari-hari, baik saat rapat atau break makan siang. Hingga satu keputusan dicapai: target ditetapkan dan tim bergerak.
Kepala desa menyambut baik rombongan yang berkunjung ke desanya, bapak-bapak berdasi dengan pakaian yang cling. Keramahan penduduk desa tak sedikitpun menyimpan kecurigaan. Mereka menjawab dengan lugas bagaimana hidup mereka di topang selama ini, bagaimana alam memanjakan mereka. Dengan hati riang anak-anak kecil menunjukkan tempat-tempat kerja ayah mereka, dengan malu-malu para wanita menyuguhkan makanan. Sungguh sambutan yang hangat.
***
Perdebatan kini tengah terjadi diantara para pengusaha setelah melihat kondisi desa yang indah. Ada yang berniat menjadikannya tempat wisata dengan mengimingi pekerjaan bagi penduduk desa. Ada yang menginginkan mendirikan perusahan energi dengan mengeruk perut bumi tepat di wilayah desa, dan beragam keinginan lainnya. Hari demi hari mereka menggelar rapat dengan hitungan untung rugi yang selalu mengemuka. Akhirnya diambil satu kesepakatan, akan didirikan perusahaan energi dengan iming-iming suplay listrik bagi desa. Keesokan harinya mereka bergegas dengan sejumlah perencanaan yang tertuang dalam lembaran-lembaran kertas.
Kepala desa mengamati rencana bangun perusahaan yang akan ditempatkan di ujung desa. Ia mempelajari tiap detail proposal itu. Ia juga menimbang mengenai listrik yang akan segera mencerahkan malam hari masyarakat desa. "Maaf bapak-bapak sekalian, yang bapak-bapak ajukan adalah menyangkut seluruh kepentingan warga desa. Saya minta waktu untuk memusyawarahkan segala sesuatunya dengan warga”, kepala desa menutup pertemuan mereka dengan bijak.
Seluruh warga desa membicarakan kedatangan kedua rombongan dari kota itu. Mereka tak sabar untuk segera berkumpul di balai desa nanti malam untuk mendengarkan penjelasan sang tetua, kepala desa mereka.
Riuh rendah suara warga memenuhi seluruh ruang balai desa setelah mendengar penjelasan sang tetua. Warna muka mereka terlihat sangat antusias, anak-anak kecil yang ikut dengan orang tuanya tampak senang sekali mendengar bahwa malam mereka akan segera terang. Para wanita bergumam tak perlu bersusah payah menyalakan perapian di pagi hari. Singkat kata, warga desa menyambut baik rencana pengembangan desa mereka.
Hingga 10 bulan lamanya pendirian perusahaan itu menyita perhatian warga desa. Aktivitas pagi mereka sekarang bertambah dengan obrolan mengenai lapangan kerja dan listrik desa. Pengguntingan pita peresmian perusahaan dihadiri oleh seluruh warga dengan hati yang suka cita.
Satu bulan setelah perusahaan itu beroperasi, warga kini sudah dapat menikmati terangnya gelap malam. Anak-anak kecil tak takut untuk keluar rumah lagi, para wanita dapat mengerjakan jahitan hingga larut malam. Kesejahteraan warga bertambah, kepala desa pun senang.
Perusahaan itu beroperasi siang dan malam, menyedot jumlah tenaga kerja yang besar. Para pria kini tak lagi menghabiskan waktu di ladang. Puluhan hektar sawah mereka dijual untuk dijadikan kompleks perumahan pegawai perusahaan dengan jabatan yang lebih tinggi. Lapangan golf direncanakan untuk dibangun, mini market telah bertengger dalam kantor perusahaan. Wajah desa kini berubah. Anak-anak kecil mulai bermain pistol-pistolan dan pesawat terbang. Para wanita kini bergincu tebal. Dan kepala desa tak lagi mengkoleksi batik.
Wajah desa kini telah berubah, tapi alam masih tetap setia memanjakannya meski kesederhanaan tak lagi melekat disana, meski ketamakan mulai muncul di garis-garis wajah mereka.
Bumi dikeruk habis-habisan hingga sekarat. Penduduk desa telah lupa.
***
Tawa centil para wanita dan bujuk rayu pria di keremangan desa tiba-tiba terhenti saat sebuah ledakan muncul dari dalam kantor perusahaan. Para wanita bersembunyi dan para pria yang merasa menjadi superhero mendatangi sumber ledakan, tiba-tiba muncul ledakan kedua dan merekapun berjatuhan.
Peristiwa tadi malam menjadi gunjingan pagi di desa. Kepala desa mewakili warganya meminta kejelasan dari pihak perusahaan. Namun kepiawaian dan kelihaian mengolah kata membuat para warga memaklumi kejadian itu dan kemudian kembali ke rumah masing-masing tanpa kekhawatiran yang bergelayut. Namun tidak demikian halnya yang terjadi dalam kantor perusahaan, para pekerja panik, ledakan tadi malam rupa-rupanya telah membuat kebocoran pipa dan menyebabkan lumpur panas yang entah dari mana asalnya menyembur keluar. Namun mereka diminta tutup mulut jika tak ingin dipecat.
Satu bulan berlalu dari rencana penargetan penyelesaian dan penanggulangan masalah semburan lumpur. Namun tidak ada hasil yang terlihat. Semburan lumpur terlampau banyak hingga menggenangi sawah-sawah warga yang tersisa. Dan panen musim ini gagal. Puluhan kepala keluarga mengalami kerugian yang sangat besar. Sedangkan penduduk desa lainnya harus membeli beras dengan harga yang sangat mahal dari desa tetangga mereka. Para pekerja ditangguhkan gajinya karena dana besar tersedot untuk mengatasi semburan lumpur. Listrik kini mulai turun naik, hidup sesekali dan mati berulang-ulang kali. Paceklik mendatangi desa.
Dua bulan berlalu, tetap tak ada perubahan. Semburan lumpur meluas dan mulai menggenangi lantai-lantai rumah warga. Pihak perusahaan sibuk menggelar rapat-rapat darurat. Warga pun merugi.
Lima bulan berlalu dan genangan lumpur masih tetap tinggi dan terus bertambah tinggi. Kini bukan hanya lumpur yang menjadi masalah, kelaparan dan penyakit mulai bermunculan. Kepala desa kemudian menyarankan agar warganya mengungsi untuk sementara waktu hingga masalah ini dapat teratasi. Beberapa penduduk terlihat mulai sibuk berbenah, beberapa diantaranya masih bertahan untuk tetap tinggal di tanah kelahirannya.
***
Kali ini kepala desa yang dulunya bijak itu salah perhitungan. Masalah ini tak kunjung selesai. Balai desa yang dulu merupakan bangunan tertinggi hanya tinggal terlihat atapnya saja karena kini tergenang lumpur. Matahari yang hangat sekarang tak bisa lagi menemukan rimbun pepohonan di pinggir kali. Kicau burung tak lagi jadi harmoni pagi hari. Penduduk desa tak lagi bisa menikmati alamnya, mereka kini hanya bisa memandang sedih pada tanah kelahirannya. Desa yang indah itu kini jadi kubangan lumpur. Desa itu kini hilang. Bumi yang sedang sekarat yang menelannya.
Thursday, 29 June 2006
ia dan jalanan
ia masih berdiri disana. berlindung dari terik matahari di balik topinya. warna warni kendaraan diikutinya, satu persatu. dan yang ia nanti akhirnya tiba, deretan mobil berwarna warni kini berhenti rapih, berusaha menaati rambu lalu lintas, lampu merah. ia bergegas, dengan gitar kusam dan iringan terik matahari.
"aku, seorang lelaki..", alunannya, namun tak membuahkan hasil.
ia hampiri mobil kedua, namun belum sepatah katapun yang keluar dari bibirnya yang hitam, pengemudi mobil sudah tersenyum ramah menolaknya.
di mobil yang keempat terlihat seorang ibu muda yang mengenakan jilbab. dan ia pun bersenandung. lirih dengan bait yang patah-patah. lalu uang lima ratus rupiah pun berpindah tempat melalui celah kecil di antara jendela.
tak lama, ia menyingkir dari jalanan. membiarkan deret warna warni kendaraan berkejaran lagi.
dan ia kembali menyembunyikan diri di balik topinya. menghitung kepingan rupiah. dan menanti hari dalam irama yang selalu terulang tiap harinya. membuat ia yakin hidup itu tidak adil.
"aku, seorang lelaki..", alunannya, namun tak membuahkan hasil.
ia hampiri mobil kedua, namun belum sepatah katapun yang keluar dari bibirnya yang hitam, pengemudi mobil sudah tersenyum ramah menolaknya.
di mobil yang keempat terlihat seorang ibu muda yang mengenakan jilbab. dan ia pun bersenandung. lirih dengan bait yang patah-patah. lalu uang lima ratus rupiah pun berpindah tempat melalui celah kecil di antara jendela.
tak lama, ia menyingkir dari jalanan. membiarkan deret warna warni kendaraan berkejaran lagi.
dan ia kembali menyembunyikan diri di balik topinya. menghitung kepingan rupiah. dan menanti hari dalam irama yang selalu terulang tiap harinya. membuat ia yakin hidup itu tidak adil.
Friday, 28 April 2006
sayonara..
sayonara.., ujarnya seraya membungkukkan badan.
wanita yang cantik, dan juga sopan sekali. ia mengulaskan senyumnya tipis. meninggalkan bayang di belakangnya. lalu pergi..
***
ini kali ketiga ia kemari. terbata-bata ia kemukakan keinginannya. pada mulanya ia hanya terdiam di depan pintu untuk akhirnya memutuskan untuk masuk. tempat ini tempat yang sering ia lewati begitu saja, begitu saja tanpa kesan. rumah asri dengan halaman luas di depannya. meneduhkan.
saya, nana, boleh saya bicara? bahasa indonesianya cukup baik.
boleh saya tahu seperti apa keadaan disini?
lalu lima menit kemudian, ia sudah bergegas mengikuti petugas disini. menengok kamar, ruang baca, tempat bersantai, halaman, dan juga ruang makan.
terima kasih.
ia pamit dengan rona wajah yang tidak jelas.
***
dua hari berselang, nana-chan datang kembali. wajahnya menyiratkan banyak hal.
boleh saya berkonsultasi? ujarnya bingung.
lalu mengalirlah kata-kata yang mewakili semua kegundahannya.
dan hari ini. ia telah menyepakati semuanya. menitipkan segala sesuatu pada petugas rumah ini. menceritakan tentang hal-hal yang mesti ia beritahukan. di sampingnya, seorang renta yang entah sedang memandang apa. wajahnya kosong. seperti meminta nana-chan untuk tidak melakukan semua ini. mata yang sepi dan sendiri. nana-chan pun begitu, berulang kali ia terdiam, menghindari sorot mata renta itu. berusaha menekan semua kata nuraninya.
ibu, ibu akan lebih terawat disini, di temani mereka yang bisa memperhatikan ibu. menghirup udara segar di balik hijau tamannya. mendapat makanan dengan komposisi yang terbaik yang mereka berikan. mendapat teman untuk berbagi banyak hal. ibu akan baik-baik saja disini.
nana-chan berbicara dalam kata-kata yang sangat rapuh. ia benar-benar tak kuasa menatap sorot penuh cinta di sana. tangan keriput itu berusaha dengan susah payah membelai rambut nana-chan, seperti yang sering ia lakukan puluhan tahun silam. mulutnya hendak berkata-kata, namun yang keluar hanya desis yang sudah tak jelas lagi.
ibu maafkan nana.
dikecupnya. di peluknya.
ibu nana akan sering kemari.
maafkan nana bu.
***
ia, wanita cantik. wanita yang terjebak dalam keegoisannya.
seandainya saja ia mengerti bahwa tua itu sangat sepi dan sendiri.. sepi sekali.. sesepi bola mata wanita renta yang tak pernah lagi bisa membelai rambut anak tercintanya..
wanita yang cantik, dan juga sopan sekali. ia mengulaskan senyumnya tipis. meninggalkan bayang di belakangnya. lalu pergi..
***
ini kali ketiga ia kemari. terbata-bata ia kemukakan keinginannya. pada mulanya ia hanya terdiam di depan pintu untuk akhirnya memutuskan untuk masuk. tempat ini tempat yang sering ia lewati begitu saja, begitu saja tanpa kesan. rumah asri dengan halaman luas di depannya. meneduhkan.
saya, nana, boleh saya bicara? bahasa indonesianya cukup baik.
boleh saya tahu seperti apa keadaan disini?
lalu lima menit kemudian, ia sudah bergegas mengikuti petugas disini. menengok kamar, ruang baca, tempat bersantai, halaman, dan juga ruang makan.
terima kasih.
ia pamit dengan rona wajah yang tidak jelas.
***
dua hari berselang, nana-chan datang kembali. wajahnya menyiratkan banyak hal.
boleh saya berkonsultasi? ujarnya bingung.
lalu mengalirlah kata-kata yang mewakili semua kegundahannya.
dan hari ini. ia telah menyepakati semuanya. menitipkan segala sesuatu pada petugas rumah ini. menceritakan tentang hal-hal yang mesti ia beritahukan. di sampingnya, seorang renta yang entah sedang memandang apa. wajahnya kosong. seperti meminta nana-chan untuk tidak melakukan semua ini. mata yang sepi dan sendiri. nana-chan pun begitu, berulang kali ia terdiam, menghindari sorot mata renta itu. berusaha menekan semua kata nuraninya.
ibu, ibu akan lebih terawat disini, di temani mereka yang bisa memperhatikan ibu. menghirup udara segar di balik hijau tamannya. mendapat makanan dengan komposisi yang terbaik yang mereka berikan. mendapat teman untuk berbagi banyak hal. ibu akan baik-baik saja disini.
nana-chan berbicara dalam kata-kata yang sangat rapuh. ia benar-benar tak kuasa menatap sorot penuh cinta di sana. tangan keriput itu berusaha dengan susah payah membelai rambut nana-chan, seperti yang sering ia lakukan puluhan tahun silam. mulutnya hendak berkata-kata, namun yang keluar hanya desis yang sudah tak jelas lagi.
ibu maafkan nana.
dikecupnya. di peluknya.
ibu nana akan sering kemari.
maafkan nana bu.
***
ia, wanita cantik. wanita yang terjebak dalam keegoisannya.
seandainya saja ia mengerti bahwa tua itu sangat sepi dan sendiri.. sepi sekali.. sesepi bola mata wanita renta yang tak pernah lagi bisa membelai rambut anak tercintanya..
Monday, 13 March 2006
aisha
"aisha sayangnya mama, mama pergi dulu yah. aisha sama papa. aisha ga boleh ngelawan, ga boleh cengeng, aishanya mama harus jadi anak yang salihah."
"mama mau kemana?", aisha kecil bertanya kebingungan.
"mama pergi dulu. mama tinggal di rumah nenek sekarang. aisha sama papa yah." ujar sang ibunda sambil berusaha keras menahan kesedihannya.
"ko ais ga diajak?"
"nanti, pasti papa nanti anter aisha kesana."
"tapi mama janji mama jangan lama-lama yah. terus jangan lupa bawa oleh-oleh yah."
sang bunda tak sanggup menatap bening di mata buah hatinya. dikecupnya perlahan kening aisha.
seandainya bisa sayang, mama selalu berharap bisa melihat aishanya mama tumbuh tiap hari.
ia tak kuat lagi menahan tangisnya.
***
dua hari kemudian.
"papa, mama kemana sih? mama ga sayang ais yah? pergi ke rumah neneknya lama banget si?", aisha kecil yang baru pulang sekolah ngomel-ngomel ma ayahnya.
sang ayah, yang tiba-tiba tak bisa berkata-kata lagi berusaha tersenyum meski matanya sama sekali tidak bisa berbohong.
"aisha sayang, aisha ga boleh gitu, nanti minggu depan kita ke rumah nenek yah. mama lagi kangen ma kakek nenek. seperti aisha yang kangen ma mama. masa' mama ga boleh lama-lama ketemu ma orang tuanya mama?"
mendengar penuturan ayahnya aisha kecil tersenyum, "boleh kok pa, ais ga marah lagi ko sekarang. kata mama ais harus jadi anak salihah. jadi kalau memang mama lagi kangen ma kakek nenek ais ga kenapa-kenapa kok. ais kan udah dewasa."
ayahnya tersenyum geli mendengar kata "dewasa" terlontar dari anak yang baru duduk di bangku sekolah dasar itu.
"aisha, aisha, anak pintar", ujar sang ayah sembari memeluk anak semata wayangnya.
***
"papa, tadi malam ais mimpi sedih sekali. mama diambil orang pa, ais sedih sekali. aisha sampai nangis. ais pengen teriak, jangan ambil mama. tapi tetap aja mama pergi bersama orang-orang itu pa." ujar aisha berkisah saat ayahnya membangunkannya pagi ini.
ayah aisha tersentak, ia harus berkata apalagi pada buah hatinya?
"papa, mama ga diculik orang kan pa? ini dah hari ketiga mama di rumah nenek kakek. mama baik-baik aja kan pa? pa nanti sore kita ke rumah nenek kakek ya pa, kita ajak mama pulang, biar mama ga diambil penculik di mimpi ais ya pa."
ayahnya hanya mengangguk pelan, pelan sekali, hampir tak terlihat, hanya matanya mulai tak sanggup lagi menyembunyikan semua gejolak rasanya.
***
"papa... "
aisha sesenggukan menghampiri ayahnya.
"kata temen-temen ais sekarang dah ga punya mama lagi, bener ya pa? bener mama di culik pa?"
aisha mulai menangis keras.
"bener ya pa mimpi ais kemarin? siapa yang ngambil mama dari kita pa? siapa? kenapa papa ga tahan penculik itu untuk ngambil mama? ais lagi dimana pa waktu mama di culik? kenapa dia tega ngambil mama dari kita pa? ais ga mau kehilangan mama pa.. ais ga mau.."
ayahnya menggendong aisha.
"enggak aisha sayang, mama ga diculik, hanya mama dan kita sekarang ga bisa sering bersama lagi. mama sekarang tinggalnya di rumah kakek nenek. aisha tinggal disini sama papa. karena aisha mesti sekolah. mesti jadi anak yang salihah seperti kata mama."
"kenapa mama tinggal di rumah nenek pa? mama ga sayang ma ais lagi ya pa? ais yang terlalu nakal ya pa? kita jemput mama aja pa sekarang, ais mo minta maaf ma mama. ais mo jemput mama."
"aisha sayang, aisha mesti sabar yah sayang. mama disana juga lagi kangen banget ma aisha."
***
mama.. mama sehat ma? mama ga diculik kan ma? ais kangen mama, tadi ais diejek ma temen-temen dah ga punya mama lagi, ais pengen bilang ma mereka kalau mama hanya ke rumah nenek bentar aja, seperti kata papa. ais pengen bilang kalau ais punya mama yang sayang ma ais. ais pengen bilang ma mereka kalau bentar lagi mama pulang. jadi entar ais bisa nunjukkin ke mereka kalau mama ga diculik. tadinya ais mo jemput mama sore tadi. tapi kata papa ais mesti jadi anak yang sabar. jadinya ais tulis surat ini aja. ais mo minta tolong mbok nah untuk kirimin surat ini. ais juga pengen mama tahu ais dah bisa nulis sekarang, meski kadang minta tolong mbok nah juga.ais doain mama sehat yah ma, biar mama lekas pulang, jadi di rumah ini nantinya akan ada mama, papa dan ais lagi.ais kangen mama.
***
15 tahun kemudian.
tingginya kini sedagu ayahnya. aisha sudah tidak kecil lagi. di hadapannya pusara sang ibunda. ia berdoa perlahan, untuk seseorang yang teramat ia sayangi. ditangannya tergenggam erat secarik kertas yang sudah lusuh. surat yang tak akan pernah sampai.
mama, aisha kangen mama..
"mama mau kemana?", aisha kecil bertanya kebingungan.
"mama pergi dulu. mama tinggal di rumah nenek sekarang. aisha sama papa yah." ujar sang ibunda sambil berusaha keras menahan kesedihannya.
"ko ais ga diajak?"
"nanti, pasti papa nanti anter aisha kesana."
"tapi mama janji mama jangan lama-lama yah. terus jangan lupa bawa oleh-oleh yah."
sang bunda tak sanggup menatap bening di mata buah hatinya. dikecupnya perlahan kening aisha.
seandainya bisa sayang, mama selalu berharap bisa melihat aishanya mama tumbuh tiap hari.
ia tak kuat lagi menahan tangisnya.
***
dua hari kemudian.
"papa, mama kemana sih? mama ga sayang ais yah? pergi ke rumah neneknya lama banget si?", aisha kecil yang baru pulang sekolah ngomel-ngomel ma ayahnya.
sang ayah, yang tiba-tiba tak bisa berkata-kata lagi berusaha tersenyum meski matanya sama sekali tidak bisa berbohong.
"aisha sayang, aisha ga boleh gitu, nanti minggu depan kita ke rumah nenek yah. mama lagi kangen ma kakek nenek. seperti aisha yang kangen ma mama. masa' mama ga boleh lama-lama ketemu ma orang tuanya mama?"
mendengar penuturan ayahnya aisha kecil tersenyum, "boleh kok pa, ais ga marah lagi ko sekarang. kata mama ais harus jadi anak salihah. jadi kalau memang mama lagi kangen ma kakek nenek ais ga kenapa-kenapa kok. ais kan udah dewasa."
ayahnya tersenyum geli mendengar kata "dewasa" terlontar dari anak yang baru duduk di bangku sekolah dasar itu.
"aisha, aisha, anak pintar", ujar sang ayah sembari memeluk anak semata wayangnya.
***
"papa, tadi malam ais mimpi sedih sekali. mama diambil orang pa, ais sedih sekali. aisha sampai nangis. ais pengen teriak, jangan ambil mama. tapi tetap aja mama pergi bersama orang-orang itu pa." ujar aisha berkisah saat ayahnya membangunkannya pagi ini.
ayah aisha tersentak, ia harus berkata apalagi pada buah hatinya?
"papa, mama ga diculik orang kan pa? ini dah hari ketiga mama di rumah nenek kakek. mama baik-baik aja kan pa? pa nanti sore kita ke rumah nenek kakek ya pa, kita ajak mama pulang, biar mama ga diambil penculik di mimpi ais ya pa."
ayahnya hanya mengangguk pelan, pelan sekali, hampir tak terlihat, hanya matanya mulai tak sanggup lagi menyembunyikan semua gejolak rasanya.
***
"papa... "
aisha sesenggukan menghampiri ayahnya.
"kata temen-temen ais sekarang dah ga punya mama lagi, bener ya pa? bener mama di culik pa?"
aisha mulai menangis keras.
"bener ya pa mimpi ais kemarin? siapa yang ngambil mama dari kita pa? siapa? kenapa papa ga tahan penculik itu untuk ngambil mama? ais lagi dimana pa waktu mama di culik? kenapa dia tega ngambil mama dari kita pa? ais ga mau kehilangan mama pa.. ais ga mau.."
ayahnya menggendong aisha.
"enggak aisha sayang, mama ga diculik, hanya mama dan kita sekarang ga bisa sering bersama lagi. mama sekarang tinggalnya di rumah kakek nenek. aisha tinggal disini sama papa. karena aisha mesti sekolah. mesti jadi anak yang salihah seperti kata mama."
"kenapa mama tinggal di rumah nenek pa? mama ga sayang ma ais lagi ya pa? ais yang terlalu nakal ya pa? kita jemput mama aja pa sekarang, ais mo minta maaf ma mama. ais mo jemput mama."
"aisha sayang, aisha mesti sabar yah sayang. mama disana juga lagi kangen banget ma aisha."
***
mama.. mama sehat ma? mama ga diculik kan ma? ais kangen mama, tadi ais diejek ma temen-temen dah ga punya mama lagi, ais pengen bilang ma mereka kalau mama hanya ke rumah nenek bentar aja, seperti kata papa. ais pengen bilang kalau ais punya mama yang sayang ma ais. ais pengen bilang ma mereka kalau bentar lagi mama pulang. jadi entar ais bisa nunjukkin ke mereka kalau mama ga diculik. tadinya ais mo jemput mama sore tadi. tapi kata papa ais mesti jadi anak yang sabar. jadinya ais tulis surat ini aja. ais mo minta tolong mbok nah untuk kirimin surat ini. ais juga pengen mama tahu ais dah bisa nulis sekarang, meski kadang minta tolong mbok nah juga.ais doain mama sehat yah ma, biar mama lekas pulang, jadi di rumah ini nantinya akan ada mama, papa dan ais lagi.ais kangen mama.
***
15 tahun kemudian.
tingginya kini sedagu ayahnya. aisha sudah tidak kecil lagi. di hadapannya pusara sang ibunda. ia berdoa perlahan, untuk seseorang yang teramat ia sayangi. ditangannya tergenggam erat secarik kertas yang sudah lusuh. surat yang tak akan pernah sampai.
mama, aisha kangen mama..
Friday, 6 January 2006
ini aku, risya
parasnya masih seperti dulu. ayu, namun gurat gurat kepedihan pun kini melekat disana. riasya.
***
"asya.. bentar." susah payah aku berusaha mensejajarkan langkah dengannya. dia ini selalu cepat berpindah-pindah. seperti kutu.
"kenapa?", ia bertanya tanpa memperlambat langkahnya.
"dih galak amat. sya, mau minta tolong. temenin aku ya malam ini. rumah sepi. orang orang pada pergi. kata mama minta temenin ma asya aja".
dia mendelik. "yee, emang gue pembantu apa?"
"plis sya, yah, yah, yah?" traktir bakso d 2 harian. ujarku memelas
"mmm.."
"iya ya sya?", ujarku memohon dengan sangat.
"mmm, ga mau bakso, mau dibeliin komik baru aja." ujarnya riang. "hihi, ngga ko ista, kamu tuh kayak ga tau aku siapa aja si. baru digituin dikit aja dah mo nangis. lucu."
"jahaaat.. ugh, kirain asya beneran tega ma ista."
***
hari ini asya ga masuk.
sepi d. soalnya dia itu maskot kelas. anaknya riang. suka ngebanyol, pinter, cantik lagi. ga biasa dia ga masuk. apalagi hari ini ada latihan drama. dia kan ratu drama yang jago banget akting.
***
ini hari ketiga asya belum juga masuk. asya kenapa? ada apa? telepon rumahnya lagi rusak seminggu ini. pulang sekolah kemarin mampir kesana ga ada siapapun. kosong.
asya.. moga dalam perlindunganNya.
***
ista, kamu pasti ngekhawatirin aku ya? hihi aku emang pd, abis aku yakin kamu pasti kangen aku. maaf ya ista, aku tiba tiba aja pergi. sebenarnya aku juga ga ingin tiba tiba menghilang seperti ini. tapi aku lebih milih pergi daripada bertahan dan terus menerus memakai topeng. aku senyum, tapi sebenarnya aku tersenyum untuk apa aku juga ga ngerti. aku ngelucu, meski sebenarnya aku yang ingin dihibur. aku ikut macam-macam kegiatan disekolah, hanya untuk buktiin aku masih ada di dunia ini. maaf ya ista kalau kamu bingung. pasti kamu ga ngerti ma surat ini. aku cuma mau cerita ma kamu aja. aku ga tega kalau aku juga mesti ngebohongin kamu. sahabatku yang benar benar menganggapku ada. maaf ya ista. aku juga ga tahu kalau aku ternyata seperti ini ista. kalau ternyata aku rapuh banget. kalau ternyata asya yang kamu temui tiap hari di sekolah itu asya yang rapuh sekali di dalamnya.
maaf ya ista. aku ingin jujur ma kamu bahwa riasya wulandari yang kamu kenal sebenarnya telah sejak lama tidak ada. riasya wulandari itu bukan aku ista. bukan aku. ia tokoh yang tercipta untuk melindungi aku yang rapuh. ia bukan aku ista. aku meminjam gerak geriknya. aku meminjam tutur katanya. aku meminjam hidupnya dan menggadaikan hidupku.
dan kini aku kembali ista. aku mengembalikan semua yang aku pinjam darinya. riasya tidak ada ista. kalau kamu tetap ingin mengenalku. kenalkan aku risya, riasya kakakku, saudara kembarku. ia meninggal 7 tahun yang lalu dalam kecelakaan. tapi tidak ada yang tahu kalau riasya yang meninggal, aku, aku yang mengatakan pada setiap orang bahwa risya yang meninggal. bakat aktingku mungkin sudah ada sejak dulu. semua orang mempercayaiku. dan hidup seorang riasya tetap berlanjut dalam diriku. entah mungkin ketakutan masa kecilku yang mendorong aku jadi seperti itu. riasya kesayangan semua orang. anak yang manis, riang, menggemaskan. beda denganku saudara kembarnya yang selalu saja jadi urutan kedua dalam segala hal. sore itu aku yang membujuk ibu agar aku dan riasya boleh bermain sepeda di ujung jalan. namun maut menjemput riasya. dan aku takut sekali, takut sekali jika aku yang disalahkan atas kematian riasya. tapi sebenarnya diriku yang mati perlahan dalam hidup riasya. hingga akhirnya aku lelah ista. satu minggu yang lalu aku menemui ibu. menceritakan semuanya. aku ingin jadi diriku. tapi rupanya keputusanku keliru. risya anaknya sudah mati bagi mereka. aku sudah tidak ada. dan akhirnya aku memilih hilang saja. aku ingin membentuk duniaku sendiri. dunia risya yang baru dimulai satu minggu yang lalu. aku ingin mengepakkan sayapku, meski sulit sekali. sekali lagi maafkan aku ista. aku risya bukan riasya.
***
wajahnya benar benar kuyu meski tetap ayu. itu risya bukan riasya.
***
"asya.. bentar." susah payah aku berusaha mensejajarkan langkah dengannya. dia ini selalu cepat berpindah-pindah. seperti kutu.
"kenapa?", ia bertanya tanpa memperlambat langkahnya.
"dih galak amat. sya, mau minta tolong. temenin aku ya malam ini. rumah sepi. orang orang pada pergi. kata mama minta temenin ma asya aja".
dia mendelik. "yee, emang gue pembantu apa?"
"plis sya, yah, yah, yah?" traktir bakso d 2 harian. ujarku memelas
"mmm.."
"iya ya sya?", ujarku memohon dengan sangat.
"mmm, ga mau bakso, mau dibeliin komik baru aja." ujarnya riang. "hihi, ngga ko ista, kamu tuh kayak ga tau aku siapa aja si. baru digituin dikit aja dah mo nangis. lucu."
"jahaaat.. ugh, kirain asya beneran tega ma ista."
***
hari ini asya ga masuk.
sepi d. soalnya dia itu maskot kelas. anaknya riang. suka ngebanyol, pinter, cantik lagi. ga biasa dia ga masuk. apalagi hari ini ada latihan drama. dia kan ratu drama yang jago banget akting.
***
ini hari ketiga asya belum juga masuk. asya kenapa? ada apa? telepon rumahnya lagi rusak seminggu ini. pulang sekolah kemarin mampir kesana ga ada siapapun. kosong.
asya.. moga dalam perlindunganNya.
***
ista, kamu pasti ngekhawatirin aku ya? hihi aku emang pd, abis aku yakin kamu pasti kangen aku. maaf ya ista, aku tiba tiba aja pergi. sebenarnya aku juga ga ingin tiba tiba menghilang seperti ini. tapi aku lebih milih pergi daripada bertahan dan terus menerus memakai topeng. aku senyum, tapi sebenarnya aku tersenyum untuk apa aku juga ga ngerti. aku ngelucu, meski sebenarnya aku yang ingin dihibur. aku ikut macam-macam kegiatan disekolah, hanya untuk buktiin aku masih ada di dunia ini. maaf ya ista kalau kamu bingung. pasti kamu ga ngerti ma surat ini. aku cuma mau cerita ma kamu aja. aku ga tega kalau aku juga mesti ngebohongin kamu. sahabatku yang benar benar menganggapku ada. maaf ya ista. aku juga ga tahu kalau aku ternyata seperti ini ista. kalau ternyata aku rapuh banget. kalau ternyata asya yang kamu temui tiap hari di sekolah itu asya yang rapuh sekali di dalamnya.
maaf ya ista. aku ingin jujur ma kamu bahwa riasya wulandari yang kamu kenal sebenarnya telah sejak lama tidak ada. riasya wulandari itu bukan aku ista. bukan aku. ia tokoh yang tercipta untuk melindungi aku yang rapuh. ia bukan aku ista. aku meminjam gerak geriknya. aku meminjam tutur katanya. aku meminjam hidupnya dan menggadaikan hidupku.
dan kini aku kembali ista. aku mengembalikan semua yang aku pinjam darinya. riasya tidak ada ista. kalau kamu tetap ingin mengenalku. kenalkan aku risya, riasya kakakku, saudara kembarku. ia meninggal 7 tahun yang lalu dalam kecelakaan. tapi tidak ada yang tahu kalau riasya yang meninggal, aku, aku yang mengatakan pada setiap orang bahwa risya yang meninggal. bakat aktingku mungkin sudah ada sejak dulu. semua orang mempercayaiku. dan hidup seorang riasya tetap berlanjut dalam diriku. entah mungkin ketakutan masa kecilku yang mendorong aku jadi seperti itu. riasya kesayangan semua orang. anak yang manis, riang, menggemaskan. beda denganku saudara kembarnya yang selalu saja jadi urutan kedua dalam segala hal. sore itu aku yang membujuk ibu agar aku dan riasya boleh bermain sepeda di ujung jalan. namun maut menjemput riasya. dan aku takut sekali, takut sekali jika aku yang disalahkan atas kematian riasya. tapi sebenarnya diriku yang mati perlahan dalam hidup riasya. hingga akhirnya aku lelah ista. satu minggu yang lalu aku menemui ibu. menceritakan semuanya. aku ingin jadi diriku. tapi rupanya keputusanku keliru. risya anaknya sudah mati bagi mereka. aku sudah tidak ada. dan akhirnya aku memilih hilang saja. aku ingin membentuk duniaku sendiri. dunia risya yang baru dimulai satu minggu yang lalu. aku ingin mengepakkan sayapku, meski sulit sekali. sekali lagi maafkan aku ista. aku risya bukan riasya.
***
wajahnya benar benar kuyu meski tetap ayu. itu risya bukan riasya.
Friday, 30 December 2005
mimpi di siang bolong
rerumputan sedang bermain saat angin meniupnya pelan. semuanya seperti itu. mengalun riang, seirama. meski mentari sedang teriknya. panas sekali.
kemarin aku juga disini. di rerimbunan pohon ini. dari atas sini terlihat semuanya. rerumputan hijau. ruas jalan kecil. jembatan yang entah sudah tahun keberapa berada disana. dan bangunan itu. bangunan yang selalu ramai. ramai oleh celoteh, gelak tawa, canda riang, tangisan, teriakan. semua emosi berbaur disana. jadi satu. dan aku menikmatinya. membayangkan diriku diantaranya.
...1..2..5 menit
dan bel tanda usai memekakkan telinga. dan bangunan itu sunyi kembali. tapi rerumputan masih bermain bersama angin. dan aku? aku harus segera menyudahi mimpi ini. mimpi di siang bolong.
kemarin aku juga disini. di rerimbunan pohon ini. dari atas sini terlihat semuanya. rerumputan hijau. ruas jalan kecil. jembatan yang entah sudah tahun keberapa berada disana. dan bangunan itu. bangunan yang selalu ramai. ramai oleh celoteh, gelak tawa, canda riang, tangisan, teriakan. semua emosi berbaur disana. jadi satu. dan aku menikmatinya. membayangkan diriku diantaranya.
...1..2..5 menit
dan bel tanda usai memekakkan telinga. dan bangunan itu sunyi kembali. tapi rerumputan masih bermain bersama angin. dan aku? aku harus segera menyudahi mimpi ini. mimpi di siang bolong.
Thursday, 29 December 2005
cinta ibu untuk ayah
"bu?" aku mengucek-mengucek mata sambil mengambil air minum saat kulihat ibu sedang mencuci di belakang sana, mencuci pakaian dinas ayah.
"ibu, pagi-pagi sekali mencucinya? lagipula ayah kan baru pulang seminggu lagi? lalu itu kan baju ayah yang masih baru bu, masih rapih, belum ayah pakai." aku langsung nyerocos. ngantukku lalu menguap berganti keheranan.
"aku tahu, ibu kangen ayah yah?" aku berbalik jadi menggoda ibu.
ibu hanya tersenyum, senyuman khas ibu, manis, yang membuat ayah jatuh hati sepertinya.
"deuu ibu lagi kangen ayah, hihi ibu lucu deh, kangen ayah ko malah nyuci bajunya, baju yang belum dipakai lagi.. duh ibu mirip anak muda yang lagi kasmaran deh", aku makin getol godain ibu.
"ya gapapa to nduk, lagian ntar baju ayah apek kalau kelamaan di lemari, jadi nanti kalau ayah pulang dan perlu pakai seragam, pakaian dinasnya masih wangi." ujar ibu sambil tersenyum.
aku hanya senyum-senyum dengar jawaban ibu. lalu aku memilih berjongkok dekat ibu, sambil menyeruput teh manis.
"ibu mau?' aku menawarkan teh pada ibu yang sekarang sedang membilas pakaian.
"boleh nduk." ujar ibu seraya mengusap peluh di dahinya.
aku membuatkan teh untuk ibu. rumah kami memang sederhana, meski begitu ada mesin cuci di ujung ruang belakang. tapi tetap saja ibu memilih menyuci sendiri baju-baju ayah. tiap kali kami sarankan untuk mencucinya dengan mesin cuci, ibu selalu saja menolaknya. "ibu suka kok mencucikan baju ayah". dalih ibu.
ibu memang lucu, unik sekali cara ibu mengungkapkan sayangnya. tidak ada kelelahan, disana hanya ada binar kerinduan. untuk ayah.
"aku taruh disini tehnya ya bu". ibu hanya mengangguk kecil, dan hari ini ibu terlihat cantik sekali, meski hanya dalam balutan pakaian rumah yang sederhana, ibu terlihat sangat anggun, karena ada kelembutan disana, dalam tiap langkahnya, dalam gerakannya, dalam sinar matanya, dalam senyumannya.
lalu hari ini pun ibu bercerita banyak hal, memutar semua putaran waktu antara ibu dan ayah, membuat
kami tertegun.. karena sungguh cinta itu ada disana. cinta ibu untuk ayah. cinta ibu untuk kami, anaknya.
dan hari ini ibu benar benar lagi kangen ma ayah.
mm love u so much mom
dan ayah, lekas pulang ya yah
aku juga kangen banget ma ayah..
"ibu, pagi-pagi sekali mencucinya? lagipula ayah kan baru pulang seminggu lagi? lalu itu kan baju ayah yang masih baru bu, masih rapih, belum ayah pakai." aku langsung nyerocos. ngantukku lalu menguap berganti keheranan.
"aku tahu, ibu kangen ayah yah?" aku berbalik jadi menggoda ibu.
ibu hanya tersenyum, senyuman khas ibu, manis, yang membuat ayah jatuh hati sepertinya.
"deuu ibu lagi kangen ayah, hihi ibu lucu deh, kangen ayah ko malah nyuci bajunya, baju yang belum dipakai lagi.. duh ibu mirip anak muda yang lagi kasmaran deh", aku makin getol godain ibu.
"ya gapapa to nduk, lagian ntar baju ayah apek kalau kelamaan di lemari, jadi nanti kalau ayah pulang dan perlu pakai seragam, pakaian dinasnya masih wangi." ujar ibu sambil tersenyum.
aku hanya senyum-senyum dengar jawaban ibu. lalu aku memilih berjongkok dekat ibu, sambil menyeruput teh manis.
"ibu mau?' aku menawarkan teh pada ibu yang sekarang sedang membilas pakaian.
"boleh nduk." ujar ibu seraya mengusap peluh di dahinya.
aku membuatkan teh untuk ibu. rumah kami memang sederhana, meski begitu ada mesin cuci di ujung ruang belakang. tapi tetap saja ibu memilih menyuci sendiri baju-baju ayah. tiap kali kami sarankan untuk mencucinya dengan mesin cuci, ibu selalu saja menolaknya. "ibu suka kok mencucikan baju ayah". dalih ibu.
ibu memang lucu, unik sekali cara ibu mengungkapkan sayangnya. tidak ada kelelahan, disana hanya ada binar kerinduan. untuk ayah.
"aku taruh disini tehnya ya bu". ibu hanya mengangguk kecil, dan hari ini ibu terlihat cantik sekali, meski hanya dalam balutan pakaian rumah yang sederhana, ibu terlihat sangat anggun, karena ada kelembutan disana, dalam tiap langkahnya, dalam gerakannya, dalam sinar matanya, dalam senyumannya.
lalu hari ini pun ibu bercerita banyak hal, memutar semua putaran waktu antara ibu dan ayah, membuat
kami tertegun.. karena sungguh cinta itu ada disana. cinta ibu untuk ayah. cinta ibu untuk kami, anaknya.
dan hari ini ibu benar benar lagi kangen ma ayah.
mm love u so much mom
dan ayah, lekas pulang ya yah
aku juga kangen banget ma ayah..
Thursday, 2 June 2005
anak laki-laki
"saya ingin anda jadi anak laki-laki ibu saya"
wanita itu berkata demikian sembari menyeduh teh yang telah di pesannya. ia kemudian memalingkan wajahnya ke jendela di sampingnya. semburat jingga matahari. menyilaukan. dan menyedihkan.
kafe itu sepi di awal minggu seperti ini. di sekeliling wanita itu hanya ada beberapa pria yang menyeruput kopi mereka atau sekedar bersenda gurau dengan lawan bicaranya.
wanita itu kembali menatap lurus ke depan. ia mengaduk-ngaduk tehnya. air di dalam cangkir itu bergolak perlahan seperti irama sendok didalamnya. wanita itu menunduk sebentar.
"ibu saya, wanita luar biasa yang membesarkan saya. wanita terhebat dalam hidup saya. wanita yang semestinya mendapat cinta yang luar biasa."
ia terdiam perlahan.
"dan saya tidak dapat memberinya. saya baru belajar mencintainya, dengan tertatih-tatih. saya baru belajar untuk bisa memberi. meski saya tahu saya tak bisa menyamainya."
kini satu persatu pengunjung mulai meninggalkan kafe. wanita itu masih disana, bersama senja yang makin memerah.
"ibu tak pernah berkata apapun. tapi dari matanya saya tahu, ibu sering menangis diam-diam, karena saya. karena saya tak pernah tahu bagaimana mengerti ibu. karena bilangan usia saya tak mengubah saya menjadi seorang yang lebih baik. ibu terlalu banyak dikecewakan oleh saya, oleh saudara laki-laki saya. dan ibu hanya ingin satu: anak yang memahaminya. dan itu bukan saya. setidaknya bukan saya saat ini. saya baru belajar memahaminya. sedang ibu, ia digerogoti oleh waktu. dan saya ingin menyaingi waktu, saya ingin bisa menawarinya cinta yang lain."
wanita itu sering sekali datang ke kafe ini. tempat favoritnya adalah di samping jendela di sebelah barat kafe. tempat dimana senja menyinarinya.
"saya mungkin berharap terlalu banyak. tapi benar saya sedang tertatih-tatih mencobanya. dan disana, saya melihat ada cinta untuk ibu saya. tolonglah, saya hanya ingin anda jadi anak laki-laki ibu saya. memberinya cinta dari seorang anak yang memahami perasaannya. tolonglah, seperti anda menjadi anak laki-laki ibu anda, tolong berikan cinta anda pada ibu saya. saya hanya ingin anda jadi anak laki-laki ibu saya. lalu ajari saya memahami ibu."
wanita itu menyeruput habis teh dicangkirnya. ia menghela nafas sejenak. lalu dibereskannya perlahan benda-benda kecil di meja. langit kini perlahan menjadi gelap. wanita itu berdiri, meletakkan sejumlah uang di meja dan pergi.
dan disana hanya ada bayangan senja dan secangkir teh. wanita itu tidak meninggalkan siapapun disana.
wanita itu berkata demikian sembari menyeduh teh yang telah di pesannya. ia kemudian memalingkan wajahnya ke jendela di sampingnya. semburat jingga matahari. menyilaukan. dan menyedihkan.
kafe itu sepi di awal minggu seperti ini. di sekeliling wanita itu hanya ada beberapa pria yang menyeruput kopi mereka atau sekedar bersenda gurau dengan lawan bicaranya.
wanita itu kembali menatap lurus ke depan. ia mengaduk-ngaduk tehnya. air di dalam cangkir itu bergolak perlahan seperti irama sendok didalamnya. wanita itu menunduk sebentar.
"ibu saya, wanita luar biasa yang membesarkan saya. wanita terhebat dalam hidup saya. wanita yang semestinya mendapat cinta yang luar biasa."
ia terdiam perlahan.
"dan saya tidak dapat memberinya. saya baru belajar mencintainya, dengan tertatih-tatih. saya baru belajar untuk bisa memberi. meski saya tahu saya tak bisa menyamainya."
kini satu persatu pengunjung mulai meninggalkan kafe. wanita itu masih disana, bersama senja yang makin memerah.
"ibu tak pernah berkata apapun. tapi dari matanya saya tahu, ibu sering menangis diam-diam, karena saya. karena saya tak pernah tahu bagaimana mengerti ibu. karena bilangan usia saya tak mengubah saya menjadi seorang yang lebih baik. ibu terlalu banyak dikecewakan oleh saya, oleh saudara laki-laki saya. dan ibu hanya ingin satu: anak yang memahaminya. dan itu bukan saya. setidaknya bukan saya saat ini. saya baru belajar memahaminya. sedang ibu, ia digerogoti oleh waktu. dan saya ingin menyaingi waktu, saya ingin bisa menawarinya cinta yang lain."
wanita itu sering sekali datang ke kafe ini. tempat favoritnya adalah di samping jendela di sebelah barat kafe. tempat dimana senja menyinarinya.
"saya mungkin berharap terlalu banyak. tapi benar saya sedang tertatih-tatih mencobanya. dan disana, saya melihat ada cinta untuk ibu saya. tolonglah, saya hanya ingin anda jadi anak laki-laki ibu saya. memberinya cinta dari seorang anak yang memahami perasaannya. tolonglah, seperti anda menjadi anak laki-laki ibu anda, tolong berikan cinta anda pada ibu saya. saya hanya ingin anda jadi anak laki-laki ibu saya. lalu ajari saya memahami ibu."
wanita itu menyeruput habis teh dicangkirnya. ia menghela nafas sejenak. lalu dibereskannya perlahan benda-benda kecil di meja. langit kini perlahan menjadi gelap. wanita itu berdiri, meletakkan sejumlah uang di meja dan pergi.
dan disana hanya ada bayangan senja dan secangkir teh. wanita itu tidak meninggalkan siapapun disana.
Thursday, 17 February 2005
kaki baruku
dari sini, dari balik jendela ini, tawa mereka selalu aku cemburui, kaki-kaki mereka yang menjejak ke tanah, merasakan basahnya lumpur dan percikan hujan, selalu membuatku iri. tapi itu tak lama, karena mereka harus kembali ke rumah jika mentari hendak pamit pada bumi. saat itu, aku kembali melihat kakiku, dimana dia? kenapa aku tak bisa merasakan dinginnya lantai ini?
***
sore yang sama dengan kemarin. satu.. dua.. tiga, mana dua orang lagi? mereka selalu bersama-sama berlima menghabiskan senja. oo, itu mereka, sedang tergopoh-gopoh berlari. sejenak mereka bersama lagi. lucu, raut wajah yang sedang menunggu itu tadinya cemberut, masam, tak enak lah untuk diamati. tapi begitu melihat kedua temannya tergopoh-gopoh datang dan membawa bola, dalam sekejap saja rona cerah terhias. lalu, mereka kembali bermain dengan lumpur dan percikan hujan. dan aku adalah penonton setianya.
***
sudah lewat 15 menit dari jadwal main bola mereka. tapi tak juga ada tanda-tanda hadirnya. kali ini aku memberanikan diri, mengarahkan kursi rodaku keluar, ke teras hanya untuk melihat ke ujung jalan apa mereka sedang berunding disana. tapi kosong. hanya ada jalan yang melompong sepi. kemana mereka?
***
sehari, dua hari, seminggu. sepi. aku merindukan mereka, merindukannya untuk bersama menghabiskan senja. dimana mereka? padahal aku ingin memamerkan pada mereka, kalau akupun bisa bermain disana. menjejak ke tanah dan menapaki lapangan itu. walau aku tetap tak bisa merasakan basahnya lumpur, percikan air, ataupun dinginnya lantai. aku kini berdiri di atas kaki baruku.
***
sore yang sama dengan kemarin. satu.. dua.. tiga, mana dua orang lagi? mereka selalu bersama-sama berlima menghabiskan senja. oo, itu mereka, sedang tergopoh-gopoh berlari. sejenak mereka bersama lagi. lucu, raut wajah yang sedang menunggu itu tadinya cemberut, masam, tak enak lah untuk diamati. tapi begitu melihat kedua temannya tergopoh-gopoh datang dan membawa bola, dalam sekejap saja rona cerah terhias. lalu, mereka kembali bermain dengan lumpur dan percikan hujan. dan aku adalah penonton setianya.
***
sudah lewat 15 menit dari jadwal main bola mereka. tapi tak juga ada tanda-tanda hadirnya. kali ini aku memberanikan diri, mengarahkan kursi rodaku keluar, ke teras hanya untuk melihat ke ujung jalan apa mereka sedang berunding disana. tapi kosong. hanya ada jalan yang melompong sepi. kemana mereka?
***
sehari, dua hari, seminggu. sepi. aku merindukan mereka, merindukannya untuk bersama menghabiskan senja. dimana mereka? padahal aku ingin memamerkan pada mereka, kalau akupun bisa bermain disana. menjejak ke tanah dan menapaki lapangan itu. walau aku tetap tak bisa merasakan basahnya lumpur, percikan air, ataupun dinginnya lantai. aku kini berdiri di atas kaki baruku.
Wednesday, 19 January 2005
dalam hujan
Kabut mulai menghampiri wajahnya. Satu persatu bulir mulai menghangat di pipinya. Ia kini sendiri, walau sebenarnya sepi telah menjadi bagian dirinya.
***
Re, langit mulai mendung. Yuk ke rumah sakit.
Iya Na, hayu..
Mereka berdua bergegas membawa payung berukuran besar, dengan warna yang mencolok.
Moga hujan cukup deras hari ini, harap Re dalam hati.
Benar, baru sepuluh meter dari tempat mereka menghabiskan siangnya, tiba-tiba byuurr, hujan turun dengan derasnya. Re memandang Na. Na tersenyum nakal. Lalu mereka berdua berlari sekencang-kencangnya.
Pasti aku duluan yang dapat tumpangan.
Ngga, aku yang bakal duluan dapat
Teriak keduanya, hendak mengalahkan riuh hujan.
Re tiba duluan di rumah sakit. Lalu..
Bu, payungnya bu, hujannya deras bu.
Tak berhasil dengan seorang ibu muda yang mengapit dua anaknya, ia beralih ke seorang pria dewasa yang sedang menahan dingin dari balik jaketnya.
Pak, diantar pak, payungnya pak..
Merasa gagal juga, kini Re berusaha merayu Pak tua yang sedang asik memandangi hujan. Tiba-tiba ekor matanya menangkap payung milik Na, ada seorang ibu dengan tas yang cukup besar sedang menelusuri jalan rumah sakit. Di belakangnya Na mengiringi. Saat mata mereka beradu, Na tersenyum girang, merasa menang dari Re. Senyum yang samar, karena bentuknya mulai beradu dengan dingin.
Re kini kedinginan. Kakinya tak beralas. Bajunya mulai basah kuyup. Tak lama kemudian seorang wanita berkaca minus mendekatinya.
Dek, antar sampai sana ya.
Mata Re berbinar, tatapannya menyapu teras rumah sakit, tapi Na belum kembali. Ia ingin memamerkan betapa dirinya merasakan sedikit kehangatan saat sang wanita mengajaknya bersama berjalan di bawah payung, tak seperti kebanyakan pemakai jasanya yang membiarkan ia menggigil kedinginan karena tertinggal di belakang mereka. Sayang Na tak melihatnya. Padahal Re tahu, pasti Na akan sangat iri. Lalu Re bisa tersenyum puas karena menang kali ini.
Sekembalinya mengantar wanita tadi, Re lantas mengitari teras, mencari Na. tapi masih belum tampak batang hidungnya. Tak lama di sudut jalan menyembul payung biru, payung andalan Na. Senyum mulai menghiasi wajah Re.
Mendapati Re di teras rumah sakit, Na pun tak kalah girangnya. Ia mulai mempercepat langkahnya. Tak sabar ia pun berlari. Tapi jalanan licin membuatnya terjatuh. Na bergegas bangkit, tapi terlambat. Dari arah yang berlawanan muncul mobil sedan dengan kecepatan tinggi. Lalu.. BLAM..
***
Air mata Re tak bisa dibedakan dengan hujan. Na kini terkulai. Re hanya bisa berbisik lemah..
Na, ibu tadi memberi uang lebih, tak seperti biasanya. Jadi hari ini kita bisa makan enak di warung mpok Mini. Bangun Na. Kamu baru dapat satu tumpangan hari ini. Hujan masih turun dengan derasnya. Bangun Na. Lalu kita berlomba lagi.
***
Re, langit mulai mendung. Yuk ke rumah sakit.
Iya Na, hayu..
Mereka berdua bergegas membawa payung berukuran besar, dengan warna yang mencolok.
Moga hujan cukup deras hari ini, harap Re dalam hati.
Benar, baru sepuluh meter dari tempat mereka menghabiskan siangnya, tiba-tiba byuurr, hujan turun dengan derasnya. Re memandang Na. Na tersenyum nakal. Lalu mereka berdua berlari sekencang-kencangnya.
Pasti aku duluan yang dapat tumpangan.
Ngga, aku yang bakal duluan dapat
Teriak keduanya, hendak mengalahkan riuh hujan.
Re tiba duluan di rumah sakit. Lalu..
Bu, payungnya bu, hujannya deras bu.
Tak berhasil dengan seorang ibu muda yang mengapit dua anaknya, ia beralih ke seorang pria dewasa yang sedang menahan dingin dari balik jaketnya.
Pak, diantar pak, payungnya pak..
Merasa gagal juga, kini Re berusaha merayu Pak tua yang sedang asik memandangi hujan. Tiba-tiba ekor matanya menangkap payung milik Na, ada seorang ibu dengan tas yang cukup besar sedang menelusuri jalan rumah sakit. Di belakangnya Na mengiringi. Saat mata mereka beradu, Na tersenyum girang, merasa menang dari Re. Senyum yang samar, karena bentuknya mulai beradu dengan dingin.
Re kini kedinginan. Kakinya tak beralas. Bajunya mulai basah kuyup. Tak lama kemudian seorang wanita berkaca minus mendekatinya.
Dek, antar sampai sana ya.
Mata Re berbinar, tatapannya menyapu teras rumah sakit, tapi Na belum kembali. Ia ingin memamerkan betapa dirinya merasakan sedikit kehangatan saat sang wanita mengajaknya bersama berjalan di bawah payung, tak seperti kebanyakan pemakai jasanya yang membiarkan ia menggigil kedinginan karena tertinggal di belakang mereka. Sayang Na tak melihatnya. Padahal Re tahu, pasti Na akan sangat iri. Lalu Re bisa tersenyum puas karena menang kali ini.
Sekembalinya mengantar wanita tadi, Re lantas mengitari teras, mencari Na. tapi masih belum tampak batang hidungnya. Tak lama di sudut jalan menyembul payung biru, payung andalan Na. Senyum mulai menghiasi wajah Re.
Mendapati Re di teras rumah sakit, Na pun tak kalah girangnya. Ia mulai mempercepat langkahnya. Tak sabar ia pun berlari. Tapi jalanan licin membuatnya terjatuh. Na bergegas bangkit, tapi terlambat. Dari arah yang berlawanan muncul mobil sedan dengan kecepatan tinggi. Lalu.. BLAM..
***
Air mata Re tak bisa dibedakan dengan hujan. Na kini terkulai. Re hanya bisa berbisik lemah..
Na, ibu tadi memberi uang lebih, tak seperti biasanya. Jadi hari ini kita bisa makan enak di warung mpok Mini. Bangun Na. Kamu baru dapat satu tumpangan hari ini. Hujan masih turun dengan derasnya. Bangun Na. Lalu kita berlomba lagi.
Friday, 14 January 2005
sayap patah
Ia baru beranjak. Ia tak pernah bisa meninggalkan aku dengan diam. Ia memintaku memutar ulang semua kisah. Keping aku dan dia.
***
Saat helaian waktu yang jatuh persatu bercerita:
Rie, hari masih memintaku menemaninya
membalik dusta yang berkelana mengemis kesemuan
karena jiwa, ribu makna
dan karat hidup hanya menyisakan luka
mungkinkah aku?
Ia sedang memandang bintang dan bertanya padaku.
Sa, torehan huruf dan katamu bukan sekedar kalimat. Ia adalah mimpimu dan harap yang suatu saat kau wujudkan.
----
Rie, semua hanya menyisakan lelah
Tapi aku tak mungkin mengalah
Ia masih berbincang dengan malam.
Sa, asa yang membuatmu berarti. Mengapa tak memilih diam sejenak?.
----
Rie, aku ingin terbang tinggi bersama mereka
Tapi sepertinya sayapku patah
Dan aku hanya bermimpi mengarungi angkasa
Kini ia menatap langit. Menembus lapis demi lapisnya.
Sa, mengapa tak kau balut lukamu dan mulai belajar mengepakkan sayap?
----
Aku tak kan pernah bisa terbang Rie
Tak kan pernah bisa menatap awan tanpa sekat
Rintik membasahi malam di jendelanya. Ia seperti lebur jadi satu di sana.
Sa, bolehkah aku memintamu untuk tidak pernah menyerah?
***
Ia baru beranjak. Ia tak pernah bisa meninggalkan aku dengan diam. Tapi kisah itu kini telah berakhir.
Sa, hanya punya dunianya sendiri. Terpekur, melamun, tercenung, berteriak, menangis, terbahak-bahak. Menyembunyikan jiwa rapuh di balik baju yang membungkus rapat tubuhnya.
***
Saat helaian waktu yang jatuh persatu bercerita:
Rie, hari masih memintaku menemaninya
membalik dusta yang berkelana mengemis kesemuan
karena jiwa, ribu makna
dan karat hidup hanya menyisakan luka
mungkinkah aku?
Ia sedang memandang bintang dan bertanya padaku.
Sa, torehan huruf dan katamu bukan sekedar kalimat. Ia adalah mimpimu dan harap yang suatu saat kau wujudkan.
----
Rie, semua hanya menyisakan lelah
Tapi aku tak mungkin mengalah
Ia masih berbincang dengan malam.
Sa, asa yang membuatmu berarti. Mengapa tak memilih diam sejenak?.
----
Rie, aku ingin terbang tinggi bersama mereka
Tapi sepertinya sayapku patah
Dan aku hanya bermimpi mengarungi angkasa
Kini ia menatap langit. Menembus lapis demi lapisnya.
Sa, mengapa tak kau balut lukamu dan mulai belajar mengepakkan sayap?
----
Aku tak kan pernah bisa terbang Rie
Tak kan pernah bisa menatap awan tanpa sekat
Rintik membasahi malam di jendelanya. Ia seperti lebur jadi satu di sana.
Sa, bolehkah aku memintamu untuk tidak pernah menyerah?
***
Ia baru beranjak. Ia tak pernah bisa meninggalkan aku dengan diam. Tapi kisah itu kini telah berakhir.
Sa, hanya punya dunianya sendiri. Terpekur, melamun, tercenung, berteriak, menangis, terbahak-bahak. Menyembunyikan jiwa rapuh di balik baju yang membungkus rapat tubuhnya.
Thursday, 30 December 2004
untuk Risma
“Pasir ini hangat. Coba saja kau genggam. Dan tunggulah, sebentar lagi senja kan terlihat sangat indah.” Siluet dirinya sore itu terekam jelas di benakku.
“Kebersamaan seperti ini indah bukan? Sepertinya aku tak ingin kembali ke Jakarta. Ingin menikmati lebih lama lagi angin pantai ini.”
Lalu perlahan langit yang berangsur membentuk garis-garis indah yang menjadi saksi percakapan kami sore itu.
Risma, coba tunjukkan. Bantu aku mengingat kembali di mana pantai yang kita kunjungi sore itu. Tolong bantu aku menemukan barisan nyiur nan indah dan kehangatan pasir sore itu. Dimana Risma semuanya? Dimana?
Kotaku seperti kota mati, kota hilang yang terendam. Mengapa Lumpur yang menggantikan kehangatan pasir? Mengapa semilir angin pantai terganti bau tak sedap yang membuat semua orang menutup hidungnya?
Aku tahu aku sedang bermain dalam ribuan tanya tak perlu jawab.
Risma, sungguh manusia itu sangat tidak berdaya. Ingat diskusi kita dulu? Saat kau begitu ingin membantu mereka yang tertimpa bencana? Aku masih ingat bom kuningan itu, saat dimana dirimu segera memberi santunan pada para korban. Aku juga ingat saat kau tiba-tiba ingin menjadi seorang dokter supaya bisa ikut serta dalam tim Mer-C ke Ambon. Aku masih ingat semua itu, yang selalu hangat kita bicarakan: tentang kepongahan manusia berjalan di muka bumi ini. Tentang kesombongan manusia yang dengan seenaknya merusak alam ini, memunculkan derita untuk manusia lainnya. Manusia yang tidak berdaya, tapi begitu angkuhnya hidup di bumi. “mungkin bumi semakin menciut karena malu melihat perbuatan manusia”, begitu ujarmu suatu ketika.
Dan kini, manusia benar-benar tidak berdaya saat semua diluluhlantakkan dalam satu kalimat-Nya. Lantas semuanya hilang, lenyap, mungkin tak bersisa.
Risma, tahukah saat di depanku ada sepiring nasi dengan lauk telur dan tempe saja aku sudah merasa sangat kaya. Benar Risma, saat aku melipat bajuku dan menaruhnya di lemari tiba-tiba aku merasa sangat sejahtera dibandingkan mereka yang harta bendanya hanya baju yang melekat di tubuhnya.
Dan anak-anak itu Risma, lihatlah mereka tertidur lelap sekali. Apa mereka memimpikan permainan di atas ombak?
Ya, aku tahu, kota kita kini telah hilang.
Saat seminggu lalu kau pamit untuk kembali ke Aceh, aku pun ingin bersamamu. Ingin sekali menghabiskan hari di penghujung 2004 ini disana, di tepi pantai kita. Tapi aku hanya bisa melihatmu terbang dari balik kaca bandara. Melihatmu yang begitu riang karena akhirnya kau bisa mengabdikan diri untuk tanah kita, membangun daerah kita. Senyum terakhir yang kulihat. Risma semoga jenazahmu segera ditemukan dan aku ingin bisa menguburmu dengan cara yang baik.
Jakarta
Saat putaran waktu mendekati ujung tahun
Ditutupnya buku biru, catatan hariannya. Ia menghela nafas dalam. Kemudian merapihkan mejanya dan meraih ransel di sampingnya. Tekadnya bulat, ia akan segera ke Kedoya, mendaftarkan diri sebagai relawan.
berikan, apa yang bisa kita beri
DIbutuhkan beberapa orang sukarelawan untuk pergi ke aceh selama 1 minggu, mulai 7 januari 2005. breefing hari jumat 31 desember 2004 di gedung shafira jl. buah batu no. 165 B bandung, jam 09.00 pagi
di cari org yg bisa merekrut relawan untuk korban bencana alam di aceh.Jika ada, tolong kontak 0451-482764 atau via e-mail: affan@affan.web.id
“Kebersamaan seperti ini indah bukan? Sepertinya aku tak ingin kembali ke Jakarta. Ingin menikmati lebih lama lagi angin pantai ini.”
Lalu perlahan langit yang berangsur membentuk garis-garis indah yang menjadi saksi percakapan kami sore itu.
Risma, coba tunjukkan. Bantu aku mengingat kembali di mana pantai yang kita kunjungi sore itu. Tolong bantu aku menemukan barisan nyiur nan indah dan kehangatan pasir sore itu. Dimana Risma semuanya? Dimana?
Kotaku seperti kota mati, kota hilang yang terendam. Mengapa Lumpur yang menggantikan kehangatan pasir? Mengapa semilir angin pantai terganti bau tak sedap yang membuat semua orang menutup hidungnya?
Aku tahu aku sedang bermain dalam ribuan tanya tak perlu jawab.
Risma, sungguh manusia itu sangat tidak berdaya. Ingat diskusi kita dulu? Saat kau begitu ingin membantu mereka yang tertimpa bencana? Aku masih ingat bom kuningan itu, saat dimana dirimu segera memberi santunan pada para korban. Aku juga ingat saat kau tiba-tiba ingin menjadi seorang dokter supaya bisa ikut serta dalam tim Mer-C ke Ambon. Aku masih ingat semua itu, yang selalu hangat kita bicarakan: tentang kepongahan manusia berjalan di muka bumi ini. Tentang kesombongan manusia yang dengan seenaknya merusak alam ini, memunculkan derita untuk manusia lainnya. Manusia yang tidak berdaya, tapi begitu angkuhnya hidup di bumi. “mungkin bumi semakin menciut karena malu melihat perbuatan manusia”, begitu ujarmu suatu ketika.
Dan kini, manusia benar-benar tidak berdaya saat semua diluluhlantakkan dalam satu kalimat-Nya. Lantas semuanya hilang, lenyap, mungkin tak bersisa.
Risma, tahukah saat di depanku ada sepiring nasi dengan lauk telur dan tempe saja aku sudah merasa sangat kaya. Benar Risma, saat aku melipat bajuku dan menaruhnya di lemari tiba-tiba aku merasa sangat sejahtera dibandingkan mereka yang harta bendanya hanya baju yang melekat di tubuhnya.
Dan anak-anak itu Risma, lihatlah mereka tertidur lelap sekali. Apa mereka memimpikan permainan di atas ombak?
Ya, aku tahu, kota kita kini telah hilang.
Saat seminggu lalu kau pamit untuk kembali ke Aceh, aku pun ingin bersamamu. Ingin sekali menghabiskan hari di penghujung 2004 ini disana, di tepi pantai kita. Tapi aku hanya bisa melihatmu terbang dari balik kaca bandara. Melihatmu yang begitu riang karena akhirnya kau bisa mengabdikan diri untuk tanah kita, membangun daerah kita. Senyum terakhir yang kulihat. Risma semoga jenazahmu segera ditemukan dan aku ingin bisa menguburmu dengan cara yang baik.
Jakarta
Saat putaran waktu mendekati ujung tahun
Ditutupnya buku biru, catatan hariannya. Ia menghela nafas dalam. Kemudian merapihkan mejanya dan meraih ransel di sampingnya. Tekadnya bulat, ia akan segera ke Kedoya, mendaftarkan diri sebagai relawan.
berikan, apa yang bisa kita beri
DIbutuhkan beberapa orang sukarelawan untuk pergi ke aceh selama 1 minggu, mulai 7 januari 2005. breefing hari jumat 31 desember 2004 di gedung shafira jl. buah batu no. 165 B bandung, jam 09.00 pagi
di cari org yg bisa merekrut relawan untuk korban bencana alam di aceh.Jika ada, tolong kontak 0451-482764 atau via e-mail: affan@affan.web.id
Thursday, 23 December 2004
harus aku maknai apa hari ini?
Malam. Saat dingin menusuk hingga ke tulang.
Loteng kamar Dion.
Kamu pasti kaget kalau aku bilang aku ingin mati hari ini. ya, sepertinya aku capek. Dengan semuanya. Terutama dengan diriku sendiri. Lelah dengan berbagai tuntutan. Aku tahu aku tidak seharusnya menuntut mereka. Aku tahu, aku yang seharusnya menuntut diriku sendiri. Apa mungkin aku harus berhenti. Ya, seperti yang aku bilang padamu. Aku ingin mati saja.
Dilipatnya kertas itu, dimasukkan kedalam amplop berwarna putih. Lalu ditaruhnya dalam kotak hitam di bawah tempat tidurnya. Dan segera ia tercemplung bersama amplop berwarna-warni lainnya. Hanya satu yang sama dari amplop itu, di depannya tertulis: untuk aku esok hari.
Rumah mungil Ardi.
Kau lihat itu nak. Bintang setia sekali pada bulan. Ia hanya kecil di hamparan luasnya langit. Tapi kecilnya tak membuat ia surut tuk hadir hari ini. aku ingin kamu seperti itu nak. Bukan wujudmu yang kau permasalahkan. Tapi artimu yang seharusnya selalu kau pertimbangkan. Cepatlah hadir disini nak. Aku dan ibumu selalu menantimu.
Lembaran harap seorang ayah. Ditutupnya buku hijau itu dan bergegas menuju tempat tidur. Berbaring di sisi seorang wanita: istrinya yang sedang mengandung anak pertama mereka.
Warna langit telah berubah. Hari baru semestinya dimulai.
Loteng kamar Dion.
Mas Dion, bangun. Sudah siang mas. Diketuknya pintu perlahan.
Tak ada jawaban, hanya hening.
Mas Dion, bangun! Kali ini ia setengah berteriak.
Masih tak ada jawaban.
Dasar pemalas. Gerutunya.
Capek membangunkan anak sulung majikannya, wanita bertubuh subur itu menuruni tangga kembali dan larut dalam tugasnya di pagi hari.
Mungkin ia tidak tahu. Pagi ini Dion sudah tidak lagi dikamarnya. Jendela besarnya terbuka. Membiarkan angin masuk dan memainkan kertas-kertas yang berhamburan di meja tulisnya, tempat tidurnya, lantai kamarnya. Kertas-kertas yang jadi saksi kepedihan Dion, teman ketidakberdayaannya. Kertas yang beberapa diantaranya kini tak lagi putih bersih. Ada bercak disana. Bercak merah darah Dion. Ya, Dion sekarang terkulai tak berdaya. Bibirnya pucat. Tangan kanannya ada di sisi tempat tidurnya, darah yang mengucur dari sana yang tadi malam menulisi kisah akhir Dion di lembaran kertas-kertasnya.
Rumah mungil Ardi.
Gimana hari ini dek?
Dia masih terus bergerak-gerak mas, menendang-nendang. Entahlah, mungkin ia tak sabar tuk hadir menemani kita.
Semalam adek tidur pulas sekali. Lelah mas jadi hilang. Semoga anak kita nanti jadi anak yang kuat dan sehat ya dek.
Pagi ini Ardi memulai kembali harinya. Senyum memang selalu menghiasi paginya. Ada harap disana. Semoga ia kan lebih baik hari ini.
Ardi, 25 tahun. Baru berumah tangga sejak 2 tahun yang lalu. Ia dan istrinya menempati sepetak rumah kontrakan di mulut gang. Berseberangan dengan rumah mewah di tepi jalan raya. Pagi ini rumah mereka terusik dengan bunyi sirene ambulans dan juga lalu lalang mobil polisi yang perlahan memadati rumah megah itu. Rumah dimana Dion menghentikan helaan nafas yang telah dikaruniakan padanya selama 25 tahun.
Dua hari yang lalu.
Ardi tengah memilih-milih buku apa yang pantas dihadiahkan pada istrinya. Bagaimana merawat anak, mempersiapkan persalinan atau mengenali kehamilan. Bingung. Jatah membeli buku bulan ini sudah tak bersisa lagi. Ia baru ingat kalau ia sering egois memilih buku hanya untuk kepentingannya. Hari ini ia ingin beromantis ria, menghadiahi buku untuk istrinya. Ini romantis? Entahlah, setidaknya itu yang ia bayangkan.
Wa, sedang menunggu anak pertama lahir mas?
Tiba-tiba ada pria bertubuh tinggi dengan kaca minus bertengger di hidungnya menyapanya.
Iya ni. Merasa ada yang bisa dimintai tolong Ardi pun terus berseloroh.
Yang mana ya baiknya?
Mm, saya juga belum punya anak ni hehe. Baiknya yang ini aja mas: mempersiapkan persalinan. Sudah dekat bukan waktunya?. Jawab pemuda itu, sedikit diwarnai rasa sok tahu.
Nanti bulan depan mas beli lagi, seri lanjutannya. Lanjutnya.
Mm, benar juga ya.
Kehidupan baru akan dimulai ya mas sebentar lagi. Ada jiwa yang kembali hadir di dunia ini. memadati pengapnya hidup. Tatapan matanya menerawang.
Ya akan ada jiwa baru diantara kami, di antara aku dan istriku. Jiwa yang kan menumbuhsuburkan harapan kami.
Ia menoleh padaku. Harapan? Itu mungkin kata yang saya cari selama ini. Semoga jiwa itu adalah jiwa yang tegar. Semoga ia tak rapuh. Semoga ia tak kan pernah keropos dan tak akan pernah hancur.
Aku mengeryitkan dahi.
Eh maaf mas, bicara saya ngelantur. Maklum hidup itu berat bukan mas?
Segera aku mengangguk, setuju dengan kalimatnya yang terakhir.
Sipp, dah nemu bukunya kan mas. Saya juga dah nemu buku bagus ni. Makasi dah dengar celotehan asalku. Mari mas. Ujarnya bergegas.
Mm, aku hanya geleng-geleng kepala melihat ulahnya. Umurnya mungkin tak jauh berbeda denganku. Tapi entah ia terlihat begitu berbeda. Atau mungkin karena aku yang sudah menikah.
Hei, ada yang lupa aku katakan padanya tadi: hidup itu memang berat, maka maknailah dengan sederhana agar kau masih terus bernafas dalam beban hidup itu Dion. Itu nama yang kutangkap pada buku agenda yang dipegangnya tadi. Mungkinkah benar namanya Dion? Sepertinya iya.
Loteng kamar Dion. Hari ini. Saat suasana rumah mulai tak menentu
Angin masih berhembus, menelikungi tiap sisi kamar Dion, mencoba mencari detak jantung pemiliknya.
Kali ini angin membawa pergi secarik kertas dari kamar Dion. Kertas yang mulai kusam. Hanya ada satu kalimat di dalamnya: harus aku maknai apa hari ini?
Loteng kamar Dion.
Kamu pasti kaget kalau aku bilang aku ingin mati hari ini. ya, sepertinya aku capek. Dengan semuanya. Terutama dengan diriku sendiri. Lelah dengan berbagai tuntutan. Aku tahu aku tidak seharusnya menuntut mereka. Aku tahu, aku yang seharusnya menuntut diriku sendiri. Apa mungkin aku harus berhenti. Ya, seperti yang aku bilang padamu. Aku ingin mati saja.
Dilipatnya kertas itu, dimasukkan kedalam amplop berwarna putih. Lalu ditaruhnya dalam kotak hitam di bawah tempat tidurnya. Dan segera ia tercemplung bersama amplop berwarna-warni lainnya. Hanya satu yang sama dari amplop itu, di depannya tertulis: untuk aku esok hari.
Rumah mungil Ardi.
Kau lihat itu nak. Bintang setia sekali pada bulan. Ia hanya kecil di hamparan luasnya langit. Tapi kecilnya tak membuat ia surut tuk hadir hari ini. aku ingin kamu seperti itu nak. Bukan wujudmu yang kau permasalahkan. Tapi artimu yang seharusnya selalu kau pertimbangkan. Cepatlah hadir disini nak. Aku dan ibumu selalu menantimu.
Lembaran harap seorang ayah. Ditutupnya buku hijau itu dan bergegas menuju tempat tidur. Berbaring di sisi seorang wanita: istrinya yang sedang mengandung anak pertama mereka.
Warna langit telah berubah. Hari baru semestinya dimulai.
Loteng kamar Dion.
Mas Dion, bangun. Sudah siang mas. Diketuknya pintu perlahan.
Tak ada jawaban, hanya hening.
Mas Dion, bangun! Kali ini ia setengah berteriak.
Masih tak ada jawaban.
Dasar pemalas. Gerutunya.
Capek membangunkan anak sulung majikannya, wanita bertubuh subur itu menuruni tangga kembali dan larut dalam tugasnya di pagi hari.
Mungkin ia tidak tahu. Pagi ini Dion sudah tidak lagi dikamarnya. Jendela besarnya terbuka. Membiarkan angin masuk dan memainkan kertas-kertas yang berhamburan di meja tulisnya, tempat tidurnya, lantai kamarnya. Kertas-kertas yang jadi saksi kepedihan Dion, teman ketidakberdayaannya. Kertas yang beberapa diantaranya kini tak lagi putih bersih. Ada bercak disana. Bercak merah darah Dion. Ya, Dion sekarang terkulai tak berdaya. Bibirnya pucat. Tangan kanannya ada di sisi tempat tidurnya, darah yang mengucur dari sana yang tadi malam menulisi kisah akhir Dion di lembaran kertas-kertasnya.
Rumah mungil Ardi.
Gimana hari ini dek?
Dia masih terus bergerak-gerak mas, menendang-nendang. Entahlah, mungkin ia tak sabar tuk hadir menemani kita.
Semalam adek tidur pulas sekali. Lelah mas jadi hilang. Semoga anak kita nanti jadi anak yang kuat dan sehat ya dek.
Pagi ini Ardi memulai kembali harinya. Senyum memang selalu menghiasi paginya. Ada harap disana. Semoga ia kan lebih baik hari ini.
Ardi, 25 tahun. Baru berumah tangga sejak 2 tahun yang lalu. Ia dan istrinya menempati sepetak rumah kontrakan di mulut gang. Berseberangan dengan rumah mewah di tepi jalan raya. Pagi ini rumah mereka terusik dengan bunyi sirene ambulans dan juga lalu lalang mobil polisi yang perlahan memadati rumah megah itu. Rumah dimana Dion menghentikan helaan nafas yang telah dikaruniakan padanya selama 25 tahun.
Dua hari yang lalu.
Ardi tengah memilih-milih buku apa yang pantas dihadiahkan pada istrinya. Bagaimana merawat anak, mempersiapkan persalinan atau mengenali kehamilan. Bingung. Jatah membeli buku bulan ini sudah tak bersisa lagi. Ia baru ingat kalau ia sering egois memilih buku hanya untuk kepentingannya. Hari ini ia ingin beromantis ria, menghadiahi buku untuk istrinya. Ini romantis? Entahlah, setidaknya itu yang ia bayangkan.
Wa, sedang menunggu anak pertama lahir mas?
Tiba-tiba ada pria bertubuh tinggi dengan kaca minus bertengger di hidungnya menyapanya.
Iya ni. Merasa ada yang bisa dimintai tolong Ardi pun terus berseloroh.
Yang mana ya baiknya?
Mm, saya juga belum punya anak ni hehe. Baiknya yang ini aja mas: mempersiapkan persalinan. Sudah dekat bukan waktunya?. Jawab pemuda itu, sedikit diwarnai rasa sok tahu.
Nanti bulan depan mas beli lagi, seri lanjutannya. Lanjutnya.
Mm, benar juga ya.
Kehidupan baru akan dimulai ya mas sebentar lagi. Ada jiwa yang kembali hadir di dunia ini. memadati pengapnya hidup. Tatapan matanya menerawang.
Ya akan ada jiwa baru diantara kami, di antara aku dan istriku. Jiwa yang kan menumbuhsuburkan harapan kami.
Ia menoleh padaku. Harapan? Itu mungkin kata yang saya cari selama ini. Semoga jiwa itu adalah jiwa yang tegar. Semoga ia tak rapuh. Semoga ia tak kan pernah keropos dan tak akan pernah hancur.
Aku mengeryitkan dahi.
Eh maaf mas, bicara saya ngelantur. Maklum hidup itu berat bukan mas?
Segera aku mengangguk, setuju dengan kalimatnya yang terakhir.
Sipp, dah nemu bukunya kan mas. Saya juga dah nemu buku bagus ni. Makasi dah dengar celotehan asalku. Mari mas. Ujarnya bergegas.
Mm, aku hanya geleng-geleng kepala melihat ulahnya. Umurnya mungkin tak jauh berbeda denganku. Tapi entah ia terlihat begitu berbeda. Atau mungkin karena aku yang sudah menikah.
Hei, ada yang lupa aku katakan padanya tadi: hidup itu memang berat, maka maknailah dengan sederhana agar kau masih terus bernafas dalam beban hidup itu Dion. Itu nama yang kutangkap pada buku agenda yang dipegangnya tadi. Mungkinkah benar namanya Dion? Sepertinya iya.
Loteng kamar Dion. Hari ini. Saat suasana rumah mulai tak menentu
Angin masih berhembus, menelikungi tiap sisi kamar Dion, mencoba mencari detak jantung pemiliknya.
Kali ini angin membawa pergi secarik kertas dari kamar Dion. Kertas yang mulai kusam. Hanya ada satu kalimat di dalamnya: harus aku maknai apa hari ini?
Monday, 13 December 2004
Kemala
"Anda yang bernama Kemala?"
"Iya pak".
"Selamat atas bergabungnya saudara di perusahaan kami."
"Terima kasih pak, saya mohon bantuannya"
Kemala muda yang sedang menaruh harap pada pintu masa depannya.
"Bu, saya ndak bisa sering2 pulang kampung. Pekerjaan menumpuk bu. Sebagai pegawai baru saya harus berupaya membangun kepercayaan orang-orang di kantor bu"
Penggalan surat pertama Kemala.
"Bu, bagaimana Bima bu? Sudah pintar apa? Saya ingin sekali membawa Bima kesini bu. Bisa ibu datang kemari?"
Penggalan suratnya yang kedua.
"Bu, Bima ndak betah disini. Rewel terus. Kalau bekerja, saya terpaksa menitipkannya pada ibu kos. Sepertinya untuk sementara waktu saya harus menitipkannya lagi pada ibu."
Penggal surat ketiga Kemala untuk ibunya.
Setelah itu, seminggu, dua minggu, hingga 4 bulan lamanya tiada kabar dari Kemala.
-----
"Ingat nduk, anak itu amanah. Apalagi anakmu. Ia sekarang hanya memiliki engkau, ibunya."
"Nggih bu, saya tahu itu. Tapi membesarkan anak butuh biaya bu. Dengan penghasilan seperti ini saya ndak bisa berharap banyak untuk memberikan kebutuhannya bu."
"Tapi pergi ke sana itu jauh sekali nduk. Sebentar lagi anakmu mulai menanyakan ayahnya. kalau ibunya juga harus pergi jauh, nanti bagaimana ibu menjelaskannya nduk."
"Bu, saya pergi untuk kebaikannya. Dan itu tak akan lama bu."
-----
"Saya terima nikahnya Kemala binti Wardini dengan mas kawin tunai."
Senyum mengembang di wajah kedua mempelai baru. Ada janji disitu, janji setia hingga akhir nanti.
Tiga bulan kemudian.
"Alhamdulillah mas, sudah positif dua bulan", ujar sang istri malu-malu.
Wajah sang suami kaget, namun sedetik kemudian berubah menjadi sumringah.
"Alhamdulillah dek, jaga kesehatan ya", ujarnya seraya mengecup sang istri mesra.
Enam bulan kemudian.
"Nduk, ibu ndak tahu bagaimana menyampaikannya. suamimu sekarang di rawat di rumah sakit. Kepalanya bocor setelah ditabrak mobil saat menyeberang hendak pulang. Pak Yadi tadi yang mengabari ibu."
Sesampainya di rumah sakit.
"Maaf bu, kami sudah berusaha melakukan usaha sebaik mungkin. Tapi bapak sudah tidak tertolong lagi."
Lalu tiba-tiba dunia menjadi gelap bagi Kemala.
-----
Kemala muda kini bukan lagi kembang desa nan pemalu. Kariernya semakin menanjak. Hidupnya semakin mapan.
Demi inikah ia gadaikan peran mulianya?
"Iya pak".
"Selamat atas bergabungnya saudara di perusahaan kami."
"Terima kasih pak, saya mohon bantuannya"
Kemala muda yang sedang menaruh harap pada pintu masa depannya.
"Bu, saya ndak bisa sering2 pulang kampung. Pekerjaan menumpuk bu. Sebagai pegawai baru saya harus berupaya membangun kepercayaan orang-orang di kantor bu"
Penggalan surat pertama Kemala.
"Bu, bagaimana Bima bu? Sudah pintar apa? Saya ingin sekali membawa Bima kesini bu. Bisa ibu datang kemari?"
Penggalan suratnya yang kedua.
"Bu, Bima ndak betah disini. Rewel terus. Kalau bekerja, saya terpaksa menitipkannya pada ibu kos. Sepertinya untuk sementara waktu saya harus menitipkannya lagi pada ibu."
Penggal surat ketiga Kemala untuk ibunya.
Setelah itu, seminggu, dua minggu, hingga 4 bulan lamanya tiada kabar dari Kemala.
-----
"Ingat nduk, anak itu amanah. Apalagi anakmu. Ia sekarang hanya memiliki engkau, ibunya."
"Nggih bu, saya tahu itu. Tapi membesarkan anak butuh biaya bu. Dengan penghasilan seperti ini saya ndak bisa berharap banyak untuk memberikan kebutuhannya bu."
"Tapi pergi ke sana itu jauh sekali nduk. Sebentar lagi anakmu mulai menanyakan ayahnya. kalau ibunya juga harus pergi jauh, nanti bagaimana ibu menjelaskannya nduk."
"Bu, saya pergi untuk kebaikannya. Dan itu tak akan lama bu."
-----
"Saya terima nikahnya Kemala binti Wardini dengan mas kawin tunai."
Senyum mengembang di wajah kedua mempelai baru. Ada janji disitu, janji setia hingga akhir nanti.
Tiga bulan kemudian.
"Alhamdulillah mas, sudah positif dua bulan", ujar sang istri malu-malu.
Wajah sang suami kaget, namun sedetik kemudian berubah menjadi sumringah.
"Alhamdulillah dek, jaga kesehatan ya", ujarnya seraya mengecup sang istri mesra.
Enam bulan kemudian.
"Nduk, ibu ndak tahu bagaimana menyampaikannya. suamimu sekarang di rawat di rumah sakit. Kepalanya bocor setelah ditabrak mobil saat menyeberang hendak pulang. Pak Yadi tadi yang mengabari ibu."
Sesampainya di rumah sakit.
"Maaf bu, kami sudah berusaha melakukan usaha sebaik mungkin. Tapi bapak sudah tidak tertolong lagi."
Lalu tiba-tiba dunia menjadi gelap bagi Kemala.
-----
Kemala muda kini bukan lagi kembang desa nan pemalu. Kariernya semakin menanjak. Hidupnya semakin mapan.
Demi inikah ia gadaikan peran mulianya?
Tuesday, 7 December 2004
wie..
Mba, aku ingin seperti mereka yang ada di televisi. Yang kemarin baru saja dikirim untuk mengikuti olimpiade fisika sedunia.
Mba tahu kan kalau nilai fisikaku bagus-bagus. Aku tersenyum gembira saat mendapat nilai tertinggi di kelas. Tapi kalau aku tunjukkan pada bapakku lagi-lagi jawabannya hanya berdehem. Ibuku? Tak jauh beda. Kata ibu: untuk apa toh nduk nilai setinggi langit, kamu itu seharusnya lebih sering bantu bapakmu nyari uang.
Tapi aku dapat nilai tinggi kan bukan untuk mendapat kebanggaan dari ibu dan bapakku ya mba? Pendidikan adalah ibadah, aku selalu inget kata-kata mba. Jadi walaupun ibu dan bapakku tampak tidak menghiraukan, tapi aku ingin Allah yang menyapaku atas semua usahaku mba. Boleh kan berharap seperti itu?
Kadang aku geli sendiri mba, kalau teman-teman lebih sering bertanya padaku ketimbang pada Pak Jono, guru fisika di sekolahku. Bagaimana tidak lucu, mereka bertanya padaku yang tidak punya buku di rumah. Aku hanya mengandalkan catatan dan ingatanku ketika membaca buku pinjaman dari temanku saat istirahat sekolah. Tapi semuanya lantas berubah menjadi kelegaan, merasa diriku bisa bermanfaat bagi orang lain merubah senyum geliku jadi senyum bahagia yang kuingin selalu berkembang selamanya.
Berlebihankah mba jika aku ingin menggantungkan cita-citaku disana, tinggi sekali?
Aku tergugu mendengar semua celotehnya.
Wie, semoga binar dimatamu tak pernah redup. Lalu sapaan-Nya yang kan kau dapati nanti.
Pagi-pagi sekali.
Mba, bapak sakit. Sudah tiga hari batuk darahnya tak henti juga. Ibu sudah semakin kurus saja. Tiga hari juga ibu tak tidur menemani bapak. Aku juga sudah tiga hari tidak masuk sekolah mba. Doakan bapak ya mba.
Wajahnya kuyu. Lelah jelas berbayang. Wie, ada cinta dalam tiap episode yang Ia hadirkan, percayalah.
Lalu seminggu kemudian.
Mba, yang ibu takutkan terjadi mba. Allah menghendaki bapak pergi meninggalkan kami. Meninggalkan ibu, aku dan dua orang adikku. Aku ikhlas mba. Aku sudah tidak tahan melihat bapak begitu menderita seminggu terakhir ini. Allah berikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Itu yang selalu mba katakan padaku kan?
Wie, setabah itukah dirimu? Bahwa Allah pasti berikan yang terbaik bagi hamba-Nya.
Dua hari kemudian.
Mba tampaknya aku memang harus menggantung cita-citaku tinggi disana. Kini aku harus lebih memikirkan ibu dan adik-adikku mba. Aku tak ingin jadi manusia egois yang lebih mementingkan mimpiku. Aku ingin aku turut bermain dalam mimpi-mimpi ibu dan adik-adikku yang bisa kubantu mewujudkannya. Mulai besok aku berhenti sekolah mba.
Aku menghela nafas dalam. Wie, salahkah aku jika berharap binar di matamu tak kan pernah redup?
Inspired by iklan layanan masyarakat "pendidikan adalah ibadah".
Semoga semua anak negeri ini mendapat pendidikan selayaknya, lalu yang hadir kemudian adalah kemuliaan bangsa ini.
Mba tahu kan kalau nilai fisikaku bagus-bagus. Aku tersenyum gembira saat mendapat nilai tertinggi di kelas. Tapi kalau aku tunjukkan pada bapakku lagi-lagi jawabannya hanya berdehem. Ibuku? Tak jauh beda. Kata ibu: untuk apa toh nduk nilai setinggi langit, kamu itu seharusnya lebih sering bantu bapakmu nyari uang.
Tapi aku dapat nilai tinggi kan bukan untuk mendapat kebanggaan dari ibu dan bapakku ya mba? Pendidikan adalah ibadah, aku selalu inget kata-kata mba. Jadi walaupun ibu dan bapakku tampak tidak menghiraukan, tapi aku ingin Allah yang menyapaku atas semua usahaku mba. Boleh kan berharap seperti itu?
Kadang aku geli sendiri mba, kalau teman-teman lebih sering bertanya padaku ketimbang pada Pak Jono, guru fisika di sekolahku. Bagaimana tidak lucu, mereka bertanya padaku yang tidak punya buku di rumah. Aku hanya mengandalkan catatan dan ingatanku ketika membaca buku pinjaman dari temanku saat istirahat sekolah. Tapi semuanya lantas berubah menjadi kelegaan, merasa diriku bisa bermanfaat bagi orang lain merubah senyum geliku jadi senyum bahagia yang kuingin selalu berkembang selamanya.
Berlebihankah mba jika aku ingin menggantungkan cita-citaku disana, tinggi sekali?
Aku tergugu mendengar semua celotehnya.
Wie, semoga binar dimatamu tak pernah redup. Lalu sapaan-Nya yang kan kau dapati nanti.
Pagi-pagi sekali.
Mba, bapak sakit. Sudah tiga hari batuk darahnya tak henti juga. Ibu sudah semakin kurus saja. Tiga hari juga ibu tak tidur menemani bapak. Aku juga sudah tiga hari tidak masuk sekolah mba. Doakan bapak ya mba.
Wajahnya kuyu. Lelah jelas berbayang. Wie, ada cinta dalam tiap episode yang Ia hadirkan, percayalah.
Lalu seminggu kemudian.
Mba, yang ibu takutkan terjadi mba. Allah menghendaki bapak pergi meninggalkan kami. Meninggalkan ibu, aku dan dua orang adikku. Aku ikhlas mba. Aku sudah tidak tahan melihat bapak begitu menderita seminggu terakhir ini. Allah berikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Itu yang selalu mba katakan padaku kan?
Wie, setabah itukah dirimu? Bahwa Allah pasti berikan yang terbaik bagi hamba-Nya.
Dua hari kemudian.
Mba tampaknya aku memang harus menggantung cita-citaku tinggi disana. Kini aku harus lebih memikirkan ibu dan adik-adikku mba. Aku tak ingin jadi manusia egois yang lebih mementingkan mimpiku. Aku ingin aku turut bermain dalam mimpi-mimpi ibu dan adik-adikku yang bisa kubantu mewujudkannya. Mulai besok aku berhenti sekolah mba.
Aku menghela nafas dalam. Wie, salahkah aku jika berharap binar di matamu tak kan pernah redup?
Inspired by iklan layanan masyarakat "pendidikan adalah ibadah".
Semoga semua anak negeri ini mendapat pendidikan selayaknya, lalu yang hadir kemudian adalah kemuliaan bangsa ini.
Thursday, 18 November 2004
aku, Reno dan Ais
Tanganku hanya dua. Yang setiap harinya kupakai untuk menghidupi mereka dan membuat diriku juga tetap “hidup”. Jemari ini rasanya kian hari kian kasar. Tak sehalus dulu saat bunda setiap hari menimangku.
Satu, dua, tiga.. Kuhitung perlahan jumlah karung yang berhasil aku pindahkan hari ini. Lumayanlah, menjelang idul fitri begini proyek kerjaanku setidaknya bertambah, walaupun sedikit. Namun saat kuhitung kembali lembaran uang di tanganku, jumlahnya tak seperti yang kuharapkan. Tampaknya tukang jagal itu berhasil memotong jatah kami terlebih dahulu. Kuhela napas perlahan seraya meninggalkan tempat ini. Aku berjalan ditemani rumitnya pikiranku. Reno minta sandal baru, sandal yang kemarin talinya putus saat ia harus berlarian mengejar bus. Ais sekarang semakin kurus, bukan karena kami hanya memiliki sedikit uang untuk makan tapi ia sendiri tidak suka makan. Dan aku, entahlah, aku tak ingin menjadi orang egois di saat seperti ini. Melihat senyum manis mereka saat menyambutku pulang membawa kantong plastik saja sudah sangat membahagiakanku.
***
Terik sekali. Sudah beberapa hari terakhir ini puasa sangat terasa. Udara Bandung semakin panas. Sesekali tergiur juga melihat segarnya minuman warna warni di taman kota. Kulirik sekilas jam yang terpajang di toko depan. Dua jam lagi berbuka. Aku harus bergegas. Reno dan Ais pasti menungguku di ujung Bandung ini, Cileunyi.
Ramai. Semua orang sedang mempersiapkan kemeriahan idul fitri. Mungkinkah mereka juga sibuk dengan ramadhan yang tinggal sehari ini? Setahuku Reno selalu bersedih jikalau mentari ramadhan kan berganti. “Mas, kita masih kan dipertemukan dengan ramadhan mendatang tidak ya?” Begitu selalu tanyanya tiap kali takbir berkumandang di akhir ramadhan. Reno juga yang selalu mengingatkanku untuk menahan lapar dan haus selama ramadhan ini, walau bagaimanapun beratnya pekerjaanku. “Mas, toh tidak ada orang yang meninggal karena berpuasa, malu mas wong anak SD aja shaum kok.”
Reno adikku, ia yang menyejukkan rumah kami –walau hanya sepetak ruang-. Sejak tidak sekolah lagi, harinya dihabiskan untuk berjualan dan berdiam diri di masjid. Ia berteman dengan mereka yang menundukkan pandangan dan berjenggot tipis, entah siapa mereka. Aku juga tidak mengenalnya, aku kan jarang dirumah. Tapi yang aku tahu Reno semakin alim sejak berteman dengan mereka, jadi aku biarkan saja.
Dan Reno kecilku kini semakin beranjak remaja. Tapi ia tak seperti kebanyakan anak ABG –yang bagaimanapun kondisi ekonominya- berlomba-lomba menyaingi idola mereka. Reno lebih senang mengasuh Ais yang sekarang seharusnya sudah duduk di kelas 2 SD.
Aku tersenyum. Reno dan Ais, merekalah yang membuatku selalu ingin bekerja.
Langit sudah semakin gelap. Kini di tanganku sudah ada sepasang sandal baru dan jepit lucu untuk Ais. Mungkin aku baru akan tiba satu setengah jam lagi di Cileunyi. Tapi aku percaya Reno, pasti ia telah mempersiapkan makanan ala kadarnya untuk ia dan Ais. Perlahan kutuju masjid di taman kota, saat air segar membasuh wajahku, teringat kembali pertanyaan Reno: “mas, kita masih kan dipertemukan dengan ramadhan mendatang tidak ya?”.
Tiba-tiba aku jadi kangen dengan mereka. Reno, Ais, mas sayang Reno dan Ais.
Uhh, ingin sekali segera terbang ke sana dan memeluk mereka erat.
***
Cileunyi, saat azan magrib berkumandang.
Ada lafaz doa dalam diamnya seorang anak:
“Rabb, pertemukan kami kembali dengan ramadhan mendatang. Rabb, Reno sayang mas Tio dan Ais karena Engkau. Dan Rabb satukan Reno, mas Tio dan Ais dalam surga-Mu kelak ya Rabb. Amin.”
Satu, dua, tiga.. Kuhitung perlahan jumlah karung yang berhasil aku pindahkan hari ini. Lumayanlah, menjelang idul fitri begini proyek kerjaanku setidaknya bertambah, walaupun sedikit. Namun saat kuhitung kembali lembaran uang di tanganku, jumlahnya tak seperti yang kuharapkan. Tampaknya tukang jagal itu berhasil memotong jatah kami terlebih dahulu. Kuhela napas perlahan seraya meninggalkan tempat ini. Aku berjalan ditemani rumitnya pikiranku. Reno minta sandal baru, sandal yang kemarin talinya putus saat ia harus berlarian mengejar bus. Ais sekarang semakin kurus, bukan karena kami hanya memiliki sedikit uang untuk makan tapi ia sendiri tidak suka makan. Dan aku, entahlah, aku tak ingin menjadi orang egois di saat seperti ini. Melihat senyum manis mereka saat menyambutku pulang membawa kantong plastik saja sudah sangat membahagiakanku.
***
Terik sekali. Sudah beberapa hari terakhir ini puasa sangat terasa. Udara Bandung semakin panas. Sesekali tergiur juga melihat segarnya minuman warna warni di taman kota. Kulirik sekilas jam yang terpajang di toko depan. Dua jam lagi berbuka. Aku harus bergegas. Reno dan Ais pasti menungguku di ujung Bandung ini, Cileunyi.
Ramai. Semua orang sedang mempersiapkan kemeriahan idul fitri. Mungkinkah mereka juga sibuk dengan ramadhan yang tinggal sehari ini? Setahuku Reno selalu bersedih jikalau mentari ramadhan kan berganti. “Mas, kita masih kan dipertemukan dengan ramadhan mendatang tidak ya?” Begitu selalu tanyanya tiap kali takbir berkumandang di akhir ramadhan. Reno juga yang selalu mengingatkanku untuk menahan lapar dan haus selama ramadhan ini, walau bagaimanapun beratnya pekerjaanku. “Mas, toh tidak ada orang yang meninggal karena berpuasa, malu mas wong anak SD aja shaum kok.”
Reno adikku, ia yang menyejukkan rumah kami –walau hanya sepetak ruang-. Sejak tidak sekolah lagi, harinya dihabiskan untuk berjualan dan berdiam diri di masjid. Ia berteman dengan mereka yang menundukkan pandangan dan berjenggot tipis, entah siapa mereka. Aku juga tidak mengenalnya, aku kan jarang dirumah. Tapi yang aku tahu Reno semakin alim sejak berteman dengan mereka, jadi aku biarkan saja.
Dan Reno kecilku kini semakin beranjak remaja. Tapi ia tak seperti kebanyakan anak ABG –yang bagaimanapun kondisi ekonominya- berlomba-lomba menyaingi idola mereka. Reno lebih senang mengasuh Ais yang sekarang seharusnya sudah duduk di kelas 2 SD.
Aku tersenyum. Reno dan Ais, merekalah yang membuatku selalu ingin bekerja.
Langit sudah semakin gelap. Kini di tanganku sudah ada sepasang sandal baru dan jepit lucu untuk Ais. Mungkin aku baru akan tiba satu setengah jam lagi di Cileunyi. Tapi aku percaya Reno, pasti ia telah mempersiapkan makanan ala kadarnya untuk ia dan Ais. Perlahan kutuju masjid di taman kota, saat air segar membasuh wajahku, teringat kembali pertanyaan Reno: “mas, kita masih kan dipertemukan dengan ramadhan mendatang tidak ya?”.
Tiba-tiba aku jadi kangen dengan mereka. Reno, Ais, mas sayang Reno dan Ais.
Uhh, ingin sekali segera terbang ke sana dan memeluk mereka erat.
***
Cileunyi, saat azan magrib berkumandang.
Ada lafaz doa dalam diamnya seorang anak:
“Rabb, pertemukan kami kembali dengan ramadhan mendatang. Rabb, Reno sayang mas Tio dan Ais karena Engkau. Dan Rabb satukan Reno, mas Tio dan Ais dalam surga-Mu kelak ya Rabb. Amin.”
Wednesday, 22 September 2004
Sa
Manis. Senyum yang menghiasi wajahnya membuat ia makin menarik. Muslimah sopan satu ini selalu membuatku malu bila di hadapannya. Bagaimana tidak, tuturnya santun, gerak-geriknya lemah lembut. Berbeda denganku yang masih sradak sruduk ini.
Kadang celotehan-celotehannya membuatku tertegun. Suatu hal yang tampak kecil di hadapanku bisa berarti sangat besar baginya. Apalagi jika itu menyangkut masalah hati.
Sungguh aku perlu belajar banyak darinya.
***
“Sa, kok tak pernah menghubungiku lagi? Insya Allah mulai sekarang aku bisa membantu dalam penerbitan buletin kecamatan”, ujarku suatu ketika. “Oia? Afwan, soalnya ane pikir anti masih sibuk. Jadi ane tunggu anti yang menghubungi ane”, jawabnya. Jadi tertohok lagi. Tampak husnudzhan telah menjadi bagian dari kebiasaannya. Padahal sejak Agustus lalu praktis amanah lain sudah tak kupegang lagi. Hanya sibuk berbenah diri dan menikmati hari sebelum memasuki masa prako-as. Lagi-lagi malu aku di hadapannya.
***
Dua hari yang lalu Allah memberiku kesempatan menghabiskan waktu setengah hari bersamanya. Saat itu ada Aisyah, gadis kecil yang baru duduk di bangku SD. Aku baru berkenalan dengan Aisyah. Sedangkan Sa tampak sudah akrab dengannya. Aisyah ini anak yang cerdas. Kemarin dia melontarkan pertanyaan: “Teh, pernah nonton Uka-uka ga? Kalau disuruh ikutan acara itu berani ngga?”. Spontan aku menjawab, “ngga”. Dari dulu aku memang alergi dengan acara seperti itu. Sedang Sa, dengan bijaknya ia berkata: “Kalau teteh lihat dulu itu acara yang seperti apa. Acara seperti Uka-uka itu kan acara yang menganggu keberadaan mahluk gaib. Berarti kita sudah mengusik ketenangan mereka dan itu bisa membuat mereka tidak nyaman dan balik menganggu kita. Seperti anak harimau saja, kalau tidak kita ganggu ia tidak akan menganggu kita bukan? Jadi untuk berperan serta dalam acara itu, teteh bukannya ngga berani, tapi ngga mau”. Subhanallah, entah sudah kali keberapa ia membuatku termangu. Bukan hanya perkataannya tapi cara ia menghadapi Aisyah juga mengingatkanku untuk bagaimana menyikapi kekritisan seorang anak. Bukan jawaban ngasal seperti jawabanku tetapi jawaban bijak dan memberi pengertian yang kemudian kan bermanfaat bagi Aisyah. Duh Sa, aku ingin bisa seperti itu.
***
Kini rutinitasku sudah dimulai kembali. Ia pun sedang menata aktivitasnya lagi. Dan seperti dulu, kami akan jarang berjumpa. Tak akan rutin bertemu mungkin, tapi tiap pertemuanku dengannya selalu meninggalkan sekeping kisah di sini, di sudut ruangku. Sungguh Sa, aku ingin belajar banyak darimu.
from: Sa. 21/09/2004. 09:45
Jazakillah, semoga kemarin tergantikan dengan kemuliaan nan hakiki dariNya
Kadang celotehan-celotehannya membuatku tertegun. Suatu hal yang tampak kecil di hadapanku bisa berarti sangat besar baginya. Apalagi jika itu menyangkut masalah hati.
Sungguh aku perlu belajar banyak darinya.
***
“Sa, kok tak pernah menghubungiku lagi? Insya Allah mulai sekarang aku bisa membantu dalam penerbitan buletin kecamatan”, ujarku suatu ketika. “Oia? Afwan, soalnya ane pikir anti masih sibuk. Jadi ane tunggu anti yang menghubungi ane”, jawabnya. Jadi tertohok lagi. Tampak husnudzhan telah menjadi bagian dari kebiasaannya. Padahal sejak Agustus lalu praktis amanah lain sudah tak kupegang lagi. Hanya sibuk berbenah diri dan menikmati hari sebelum memasuki masa prako-as. Lagi-lagi malu aku di hadapannya.
***
Dua hari yang lalu Allah memberiku kesempatan menghabiskan waktu setengah hari bersamanya. Saat itu ada Aisyah, gadis kecil yang baru duduk di bangku SD. Aku baru berkenalan dengan Aisyah. Sedangkan Sa tampak sudah akrab dengannya. Aisyah ini anak yang cerdas. Kemarin dia melontarkan pertanyaan: “Teh, pernah nonton Uka-uka ga? Kalau disuruh ikutan acara itu berani ngga?”. Spontan aku menjawab, “ngga”. Dari dulu aku memang alergi dengan acara seperti itu. Sedang Sa, dengan bijaknya ia berkata: “Kalau teteh lihat dulu itu acara yang seperti apa. Acara seperti Uka-uka itu kan acara yang menganggu keberadaan mahluk gaib. Berarti kita sudah mengusik ketenangan mereka dan itu bisa membuat mereka tidak nyaman dan balik menganggu kita. Seperti anak harimau saja, kalau tidak kita ganggu ia tidak akan menganggu kita bukan? Jadi untuk berperan serta dalam acara itu, teteh bukannya ngga berani, tapi ngga mau”. Subhanallah, entah sudah kali keberapa ia membuatku termangu. Bukan hanya perkataannya tapi cara ia menghadapi Aisyah juga mengingatkanku untuk bagaimana menyikapi kekritisan seorang anak. Bukan jawaban ngasal seperti jawabanku tetapi jawaban bijak dan memberi pengertian yang kemudian kan bermanfaat bagi Aisyah. Duh Sa, aku ingin bisa seperti itu.
***
Kini rutinitasku sudah dimulai kembali. Ia pun sedang menata aktivitasnya lagi. Dan seperti dulu, kami akan jarang berjumpa. Tak akan rutin bertemu mungkin, tapi tiap pertemuanku dengannya selalu meninggalkan sekeping kisah di sini, di sudut ruangku. Sungguh Sa, aku ingin belajar banyak darimu.
from: Sa. 21/09/2004. 09:45
Jazakillah, semoga kemarin tergantikan dengan kemuliaan nan hakiki dariNya
Thursday, 9 September 2004
matahari masih setia menyinari Jakarta
Matahari masih bersedia menyinari Jakarta. Menerobos masuk lewat kardus-kardus di tepian rel yang telah berubah fungsi menjadi rumah tinggal. Kumuh, gelap, dan entah berapa jenis hewan yang senang bermain-main disana.
Laju kereta pun sama apatisnya dengan kebanyakan orang. Melenggang dengan cepatnya tanpa peduli sedang apa mereka dibawah sana.
***
Peluh itu membasahi wajahnya. “ Es jeruk bu, segar”. Ucapnya berulang-ulang seraya berkeliling memegang baki berisi enam gelas jeruk dingin yang memang menggoda untuk diminum di tengah ramainya Pasar Tanah Abang.
“Wuih, kok asam begini”, terdengar olehnya seseorang berucap. “Gulanya sedikit kali”, timpal yang lain. Sebenarnya kalau bukan untuk menopang hidupnya di Jakarta dia pun tak ingin menjajakan es jeruk segar yang asam ini. Segera ia pindah ke blok lain. Tak lama kemudian riuhnya Tanah Abang pun bertambah dengan seruannya: “Es jeruk bu, segar”.
***
Fauzan, “jan” begitu biasa dia dipanggil, tinggal hanya terpisah beberapa meter dari rel kereta yang seharinya mungkin bisa dilalui 10-15 argo gede dengan rute Gambir-Bandung ataupun Bandung-Gambir. Sesekali jikalau kereta itu melambatkan lajunya, ia memperhatikan rangkaian gerbong-gerbong eksekutif itu sembari menunggu untuk dapat menyeberang rel. Kali ini pikirannya terbang, tak terusik gemuruhnya deritan kereta. Melekat dengan kuatnya kenangan saat ia berusia 11 tahun. Saat itu hidupnya pun tak ubah seperti mereka yang sedang menikmati dinginnya AC gerbong eksekutif. Ia dan ayahnya sering menghabiskan waktu bersama mengunjungi stasiun kereta api. Memandangi laju kereta yang datang dan pergi, dan kemudian berceloteh bagaimana suatu saat nanti ia ingin menjadi seorang masinis. Kenangan itu kemudian berganti menjadi gundah. Segundah hatinya ketika ayah yang dibanggakannya telah berganti menjadi seorang kerdil yang terbudakkan hatinya oleh kerasnya Jakarta. Dan hancurlah semua impiannya. Kini ia hanya bersama ibunya bertahan di tepian rel kereta dan memandangi laju kereta yang datang dan pergi tiap harinya.
Lamunannya lenyap ketika seseorang tanpa sengaja menyenggolnya. Ah, kereta itu telah melaju. Anak-anak kecil pun tengah berlarian menyeberangi rel kereta. Seulas senyum menghias wajahnya. Biarlah, bukankah kemuliaan itu hanya datang dari Allah. Yang ia yakini ia harus mengikhlaskan semuanya dan berusaha memperbaiki kualitas hidupnya. Allah pasti menolong. Toh matahari pun masih setia menyinari Jakarta.
Hari ini ini ia harus kembali ke Tanah Abang lagi. Tapi kali ini seruannya berbeda: “Es jeruk bu, segar. Tapi agak sedikit asam”.
--> oleh-oleh dari Jakarta :)
Laju kereta pun sama apatisnya dengan kebanyakan orang. Melenggang dengan cepatnya tanpa peduli sedang apa mereka dibawah sana.
***
Peluh itu membasahi wajahnya. “ Es jeruk bu, segar”. Ucapnya berulang-ulang seraya berkeliling memegang baki berisi enam gelas jeruk dingin yang memang menggoda untuk diminum di tengah ramainya Pasar Tanah Abang.
“Wuih, kok asam begini”, terdengar olehnya seseorang berucap. “Gulanya sedikit kali”, timpal yang lain. Sebenarnya kalau bukan untuk menopang hidupnya di Jakarta dia pun tak ingin menjajakan es jeruk segar yang asam ini. Segera ia pindah ke blok lain. Tak lama kemudian riuhnya Tanah Abang pun bertambah dengan seruannya: “Es jeruk bu, segar”.
***
Fauzan, “jan” begitu biasa dia dipanggil, tinggal hanya terpisah beberapa meter dari rel kereta yang seharinya mungkin bisa dilalui 10-15 argo gede dengan rute Gambir-Bandung ataupun Bandung-Gambir. Sesekali jikalau kereta itu melambatkan lajunya, ia memperhatikan rangkaian gerbong-gerbong eksekutif itu sembari menunggu untuk dapat menyeberang rel. Kali ini pikirannya terbang, tak terusik gemuruhnya deritan kereta. Melekat dengan kuatnya kenangan saat ia berusia 11 tahun. Saat itu hidupnya pun tak ubah seperti mereka yang sedang menikmati dinginnya AC gerbong eksekutif. Ia dan ayahnya sering menghabiskan waktu bersama mengunjungi stasiun kereta api. Memandangi laju kereta yang datang dan pergi, dan kemudian berceloteh bagaimana suatu saat nanti ia ingin menjadi seorang masinis. Kenangan itu kemudian berganti menjadi gundah. Segundah hatinya ketika ayah yang dibanggakannya telah berganti menjadi seorang kerdil yang terbudakkan hatinya oleh kerasnya Jakarta. Dan hancurlah semua impiannya. Kini ia hanya bersama ibunya bertahan di tepian rel kereta dan memandangi laju kereta yang datang dan pergi tiap harinya.
Lamunannya lenyap ketika seseorang tanpa sengaja menyenggolnya. Ah, kereta itu telah melaju. Anak-anak kecil pun tengah berlarian menyeberangi rel kereta. Seulas senyum menghias wajahnya. Biarlah, bukankah kemuliaan itu hanya datang dari Allah. Yang ia yakini ia harus mengikhlaskan semuanya dan berusaha memperbaiki kualitas hidupnya. Allah pasti menolong. Toh matahari pun masih setia menyinari Jakarta.
Hari ini ini ia harus kembali ke Tanah Abang lagi. Tapi kali ini seruannya berbeda: “Es jeruk bu, segar. Tapi agak sedikit asam”.
--> oleh-oleh dari Jakarta :)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Iri
Ingin rasanya berada bersisian, berdampingan dengan teman-teman di lapangan yang sedang berjibaku tak kenal henti. Mereka diberi kesempa...
-
komik makin mahal aja, dah ga sanggup lagi dah belinya :P, jalan cerita hampir sebagian besarnya sama, meski cara menyajikannnya beda-beda, ...
-
Tanganku hanya dua. Yang setiap harinya kupakai untuk menghidupi mereka dan membuat diriku juga tetap “hidup”. Jemari ini rasanya kian hari ...