"bu?" aku mengucek-mengucek mata sambil mengambil air minum saat kulihat ibu sedang mencuci di belakang sana, mencuci pakaian dinas ayah.
"ibu, pagi-pagi sekali mencucinya? lagipula ayah kan baru pulang seminggu lagi? lalu itu kan baju ayah yang masih baru bu, masih rapih, belum ayah pakai." aku langsung nyerocos. ngantukku lalu menguap berganti keheranan.
"aku tahu, ibu kangen ayah yah?" aku berbalik jadi menggoda ibu.
ibu hanya tersenyum, senyuman khas ibu, manis, yang membuat ayah jatuh hati sepertinya.
"deuu ibu lagi kangen ayah, hihi ibu lucu deh, kangen ayah ko malah nyuci bajunya, baju yang belum dipakai lagi.. duh ibu mirip anak muda yang lagi kasmaran deh", aku makin getol godain ibu.
"ya gapapa to nduk, lagian ntar baju ayah apek kalau kelamaan di lemari, jadi nanti kalau ayah pulang dan perlu pakai seragam, pakaian dinasnya masih wangi." ujar ibu sambil tersenyum.
aku hanya senyum-senyum dengar jawaban ibu. lalu aku memilih berjongkok dekat ibu, sambil menyeruput teh manis.
"ibu mau?' aku menawarkan teh pada ibu yang sekarang sedang membilas pakaian.
"boleh nduk." ujar ibu seraya mengusap peluh di dahinya.
aku membuatkan teh untuk ibu. rumah kami memang sederhana, meski begitu ada mesin cuci di ujung ruang belakang. tapi tetap saja ibu memilih menyuci sendiri baju-baju ayah. tiap kali kami sarankan untuk mencucinya dengan mesin cuci, ibu selalu saja menolaknya. "ibu suka kok mencucikan baju ayah". dalih ibu.
ibu memang lucu, unik sekali cara ibu mengungkapkan sayangnya. tidak ada kelelahan, disana hanya ada binar kerinduan. untuk ayah.
"aku taruh disini tehnya ya bu". ibu hanya mengangguk kecil, dan hari ini ibu terlihat cantik sekali, meski hanya dalam balutan pakaian rumah yang sederhana, ibu terlihat sangat anggun, karena ada kelembutan disana, dalam tiap langkahnya, dalam gerakannya, dalam sinar matanya, dalam senyumannya.
lalu hari ini pun ibu bercerita banyak hal, memutar semua putaran waktu antara ibu dan ayah, membuat
kami tertegun.. karena sungguh cinta itu ada disana. cinta ibu untuk ayah. cinta ibu untuk kami, anaknya.
dan hari ini ibu benar benar lagi kangen ma ayah.
mm love u so much mom
dan ayah, lekas pulang ya yah
aku juga kangen banget ma ayah..
Thursday, 29 December 2005
Monday, 26 December 2005
langit merona
Wednesday, 21 December 2005
Sunday, 18 December 2005
Wednesday, 7 December 2005
Sunday, 4 December 2005
Tuesday, 29 November 2005
bingun
bingung ma blogger, apanya yang salah yah, ko settingannya ga sesuai mulu ma keinginan..
btw pa kabarnya dunia blog, pergi bentar aja dah ketinggalan banyak hal -ya iyalah :P
btw pa kabarnya dunia blog, pergi bentar aja dah ketinggalan banyak hal -ya iyalah :P
Wednesday, 19 October 2005
shaum
ingin nulis, ingin nulis, tapi semua kata-kata berhamburan, belum bisa di pungut satu satu :)
btw dah hari keberapa ramadhankah ini? 15 yah :'(.. hiks
selamat shaum ya.. maafkan atas semua khilaf..
btw dah hari keberapa ramadhankah ini? 15 yah :'(.. hiks
selamat shaum ya.. maafkan atas semua khilaf..
Wednesday, 21 September 2005
Monday, 19 September 2005
"ga asik banget pokoknya"
Sejak dulu diri saya menolak untuk menjadi orang dewasa. Yang terlintas pertama kali tentang mereka –orang dewasa, red- adalah : "ih ga asik banget sih". Entahlah. Itu yang selalu ada disini, di sel-sel otak saya, sampai saat ini, saat bilangan usia saya telah lebih dari 20 tahun.
Saya sangat menikmati saat saat saya bisa berlarian, jajan es krim, cireng, makan permen, saat saya menarikan dinding ba’dinding, saat saya menerima kado kenaikan kelas, saat saya berpakaian daerah di hari kartini, saat saya ikut gerak jalan 17 agustus, saat saya berkemah, saat saya lempar-lemparan air dengan teman-teman, saat saya main basket, ikut pencak silat, tampil menari, jadi paskibra, melatih adik kelas, berantem ma teman, bagi raport.. saya menikmatinya satu persatu. Dan menjadi dewasa, entahlah jadi sesuatu yang selalu ingin saya hindarkan.
Tapi perjalanan waktu tidak pernah bisa saya tipu, saya ada disini sekarang, di antara kelompokan mereka yang memiliki predikat baru: "orang dewasa". Bukan, saya ingin selalu bisa dewasa, tapi tidak ingin menjadi orang dewasa, aneh ya? hihi.. karena menurut saya, mereka, orang dewasa dihadapkan pada tiap hal yang menuntut tanggung jawab dan memiliki risiko. Ga asik banget pokoknya. Ga seperti dulu, bisa lompat-lompatan, berlarian, lalu jatuh dan kemudian mengadu pada ibu lalu semua bisa dilupakan atau tidak seperti dulu saat kanak-kanak, saat segala sesuatu bisa bergerak tanpa beban, bisa kesana kemari tanpa khawatir tersandung sesuatu, akan terjatuh mungkin, tapi itu bukan sesuatu yang berarti dan membuat berhenti bergerak.
Entahlah, mungkin penolakan saya untuk menjadi dewasa berakar atas ketakutan saya akan tanggung jawab dan beban yang membayangi saya: peran saya sebagai orang dewasa. Saya bukan lagi anak mungil yang bisa mengadu dan bersembunyi di balik gaun ibunya, saya bukan lagi anak perempuan dengan rok merahnya yang bisa jajan sekenanya di saat istirahat sekolah. Saya adalah seseorang yang dilimpahkan peran sebagai orang dewasa, bukan lagi berseragam putih abu-abu. Dan saya merasa itu suatu beban, karena menjadi dewasa membuat kaki saya tidak bisa lagi ringan melangkah. Dan sejak dulu diri saya menolak untuk menjadi orang dewasa. Ga asik banget pokoknya.
Dan entah sejak kapan saya merasa sesuatu yang menjadi tanggung jawab saya adalah satu beban yang harus diselesaikan. Dan itu membuat saya tidak nyaman berada didalamnya, saya ingin segera menyelesaikannya, terkadang saya jadi apati dan tidak peduli dengan hasil akhirnya, satu yang ada di otak saya: beban abis, hilang, selesai. Salah memang. Mungkin yang harus saya ubah adalah kacamata saya. bagaimana saya menamakan semua ini, bagaimana saya membahasakannya: ini bukan suatu beban, ini satu kesempatan. Tapi tidak semudah itu, tidak secepat itu, saya harus membiasakan diri menikmatinya satu persatu, seperti saat saya menikmati main ayunan bersama teman, hujan-hujanan di halaman, manjat pohon, ataupun duduk manis di pesta ulang tahun teman. Saya harus belajar menyukainya, menyukai peran saya menjadi orang dewasa.
Bagaimanapun waktu benar-benar tidak bisa ditipu dan saat ini bilangan usia saya menggiring saya untuk menetapkan pilihan, menjadi kanak-kanak dalam balutan usia yang tak semestinya atau menjadi dewasa. Orang-orang terdekat saya tentu tahu saya seperti apa: manja, kekanak-kanakan, ga dewasa, cengeng atau apapun itu telah jadi predikat saya, kadang saya berpikir: "klo bisa manja-manja kenapa harus dewasa" hehe. Salah mungkin. Kini saya harus membuktikannya, setidaknya pada diri saya sendiri: ini kesempatan saya menjadi dewasa. Menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi diri dan lingkungannya, dapat mengambil keputusan, tidak bergantung pada orang lain, tidak sekedar punya mimpi dan cita-cita tapi juga merintis wujudnya, memiliki peta kehidupan, bergerak atas dasar pengetahuan dan bukan menjadi budak-budak pemikiran. Karena bagi saya menjadi dewasa adalah tidak lagi berlindung di balik tirai dan bersembunyi tapi bergerak di atas panggungnya, menjadi ada. Dan saat ini saya mungkin masih terlalu takut bermain di atas panggungnya, saya masih ingin berlindung di balik tirai itu.
Dan ini tidak mudah, tidak sekejap mata. Tapi saya harus menjadi seseorang yang benar-benar ada, berperan sebagai dirinya. Mulai saat ini. insya Allah.
Tulisan saat bosan menolak menjadi orang dewasa, tulisan saat penolakan menjadi dewasa membuat diri ini ga bisa kasih yang terbaik untuk orang-orang terdekat, tulisan saat merasa diri ini childish banget..
Btw kangen banget ma blog ini dan kangen banget ma pemilik blog lainnya.. yuhuuu b3a, desska, biru, rapuh, mba fe, imponk, mba hany, mba ary, teh tri,nikk.. gimana kabarnya, kasi koment ya :)
---makasi buat s48912 :)
Saya sangat menikmati saat saat saya bisa berlarian, jajan es krim, cireng, makan permen, saat saya menarikan dinding ba’dinding, saat saya menerima kado kenaikan kelas, saat saya berpakaian daerah di hari kartini, saat saya ikut gerak jalan 17 agustus, saat saya berkemah, saat saya lempar-lemparan air dengan teman-teman, saat saya main basket, ikut pencak silat, tampil menari, jadi paskibra, melatih adik kelas, berantem ma teman, bagi raport.. saya menikmatinya satu persatu. Dan menjadi dewasa, entahlah jadi sesuatu yang selalu ingin saya hindarkan.
Tapi perjalanan waktu tidak pernah bisa saya tipu, saya ada disini sekarang, di antara kelompokan mereka yang memiliki predikat baru: "orang dewasa". Bukan, saya ingin selalu bisa dewasa, tapi tidak ingin menjadi orang dewasa, aneh ya? hihi.. karena menurut saya, mereka, orang dewasa dihadapkan pada tiap hal yang menuntut tanggung jawab dan memiliki risiko. Ga asik banget pokoknya. Ga seperti dulu, bisa lompat-lompatan, berlarian, lalu jatuh dan kemudian mengadu pada ibu lalu semua bisa dilupakan atau tidak seperti dulu saat kanak-kanak, saat segala sesuatu bisa bergerak tanpa beban, bisa kesana kemari tanpa khawatir tersandung sesuatu, akan terjatuh mungkin, tapi itu bukan sesuatu yang berarti dan membuat berhenti bergerak.
Entahlah, mungkin penolakan saya untuk menjadi dewasa berakar atas ketakutan saya akan tanggung jawab dan beban yang membayangi saya: peran saya sebagai orang dewasa. Saya bukan lagi anak mungil yang bisa mengadu dan bersembunyi di balik gaun ibunya, saya bukan lagi anak perempuan dengan rok merahnya yang bisa jajan sekenanya di saat istirahat sekolah. Saya adalah seseorang yang dilimpahkan peran sebagai orang dewasa, bukan lagi berseragam putih abu-abu. Dan saya merasa itu suatu beban, karena menjadi dewasa membuat kaki saya tidak bisa lagi ringan melangkah. Dan sejak dulu diri saya menolak untuk menjadi orang dewasa. Ga asik banget pokoknya.
Dan entah sejak kapan saya merasa sesuatu yang menjadi tanggung jawab saya adalah satu beban yang harus diselesaikan. Dan itu membuat saya tidak nyaman berada didalamnya, saya ingin segera menyelesaikannya, terkadang saya jadi apati dan tidak peduli dengan hasil akhirnya, satu yang ada di otak saya: beban abis, hilang, selesai. Salah memang. Mungkin yang harus saya ubah adalah kacamata saya. bagaimana saya menamakan semua ini, bagaimana saya membahasakannya: ini bukan suatu beban, ini satu kesempatan. Tapi tidak semudah itu, tidak secepat itu, saya harus membiasakan diri menikmatinya satu persatu, seperti saat saya menikmati main ayunan bersama teman, hujan-hujanan di halaman, manjat pohon, ataupun duduk manis di pesta ulang tahun teman. Saya harus belajar menyukainya, menyukai peran saya menjadi orang dewasa.
Bagaimanapun waktu benar-benar tidak bisa ditipu dan saat ini bilangan usia saya menggiring saya untuk menetapkan pilihan, menjadi kanak-kanak dalam balutan usia yang tak semestinya atau menjadi dewasa. Orang-orang terdekat saya tentu tahu saya seperti apa: manja, kekanak-kanakan, ga dewasa, cengeng atau apapun itu telah jadi predikat saya, kadang saya berpikir: "klo bisa manja-manja kenapa harus dewasa" hehe. Salah mungkin. Kini saya harus membuktikannya, setidaknya pada diri saya sendiri: ini kesempatan saya menjadi dewasa. Menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi diri dan lingkungannya, dapat mengambil keputusan, tidak bergantung pada orang lain, tidak sekedar punya mimpi dan cita-cita tapi juga merintis wujudnya, memiliki peta kehidupan, bergerak atas dasar pengetahuan dan bukan menjadi budak-budak pemikiran. Karena bagi saya menjadi dewasa adalah tidak lagi berlindung di balik tirai dan bersembunyi tapi bergerak di atas panggungnya, menjadi ada. Dan saat ini saya mungkin masih terlalu takut bermain di atas panggungnya, saya masih ingin berlindung di balik tirai itu.
Dan ini tidak mudah, tidak sekejap mata. Tapi saya harus menjadi seseorang yang benar-benar ada, berperan sebagai dirinya. Mulai saat ini. insya Allah.
Tulisan saat bosan menolak menjadi orang dewasa, tulisan saat penolakan menjadi dewasa membuat diri ini ga bisa kasih yang terbaik untuk orang-orang terdekat, tulisan saat merasa diri ini childish banget..
Btw kangen banget ma blog ini dan kangen banget ma pemilik blog lainnya.. yuhuuu b3a, desska, biru, rapuh, mba fe, imponk, mba hany, mba ary, teh tri,nikk.. gimana kabarnya, kasi koment ya :)
---makasi buat s48912 :)
Friday, 16 September 2005
Subscribe to:
Comments (Atom)
Iri
Ingin rasanya berada bersisian, berdampingan dengan teman-teman di lapangan yang sedang berjibaku tak kenal henti. Mereka diberi kesempa...
-
komik makin mahal aja, dah ga sanggup lagi dah belinya :P, jalan cerita hampir sebagian besarnya sama, meski cara menyajikannnya beda-beda, ...
-
Tanganku hanya dua. Yang setiap harinya kupakai untuk menghidupi mereka dan membuat diriku juga tetap “hidup”. Jemari ini rasanya kian hari ...