selalu menyukai caraNya melukiskan seluruh warna. selalu menyukai caraNya memainkan setiap nada. selalu menyukai caraNya menyusun kata.
--untuk semua yang disana.. berharap dalam tiap bait, dalam tiap irama, dalam tiap indahnya selalu ada kepingan yang tersusun dalam keutuhan cinta pada-Nya.
Tuesday, 1 February 2005
Monday, 31 January 2005
tanpa batas ruang dan waktu
menjelajahi dunia hanya dengan duduk disini? mungkin dulu itu tidak mungkin dilakukan. tapi sekarang? dunia bagai tanpa batas ruang dan waktu. duduk saja disini, lalu lihat apa yang telah mereka lakukan, cerna apa yang mereka katakan dan perhatikan apa yang mereka tuliskan. lalu dunia seakan hanya ada di hadapan kita. semua lebur jadi satu. jarak yang sebenarnya hanya bisa kita tempuh dalam waktu berjam-jam kini bagai tiada arti. anda bisa hadirkan seorang teman untuk menemani anda dalam hitungan detik. tapi seperti itu juga ia menghilang, cepat sekali. disinilah itu semua, di dunia yang tak berbatas ruang dan waktu.
--postingan saat mengantuk :D
--postingan saat mengantuk :D
Saturday, 29 January 2005
mengapa?
mengapa rasa harus dituangkan ke dalam kata?
mengapa?
iya, mengapa?
..
karena aku merasa lebih baik setelahnya. karena aku suka. suka sekali. seperti senyummu saat bahagia, atau tangismu saat kecewa. seperti itu kata bagiku. ia adalah temanku menamai hari. aku hanya menitipkan rasa pada kata. moga ada kebaikan di dalamnya.
----------------------------------
terinspirasi dari saudara disana..
semoga jadi lebih baik ya..
"Aku menulis, karena aku suka.
Benar benar suka.
Itu saja" (diambildarisini)
mengapa?
iya, mengapa?
..
karena aku merasa lebih baik setelahnya. karena aku suka. suka sekali. seperti senyummu saat bahagia, atau tangismu saat kecewa. seperti itu kata bagiku. ia adalah temanku menamai hari. aku hanya menitipkan rasa pada kata. moga ada kebaikan di dalamnya.
----------------------------------
terinspirasi dari saudara disana..
semoga jadi lebih baik ya..
"Aku menulis, karena aku suka.
Benar benar suka.
Itu saja" (diambildarisini)
Monday, 24 January 2005
Saturday, 22 January 2005
.. menjadi istimewa
koas juga manusia..
akhir-akhir ini sering d denger temen2 menyenandungkan kalimat itu.. terus ga lama abis itu, ada yang nyanyi juga..
dokter juga manusia..
setelah beberapa hari disana, kadang ada temen yang sempet kepikiran yakin ni mau jadi dokter, termasuk saya :D. bukan apa-apa, kadang kerasa rada berat bebannya, kadang ngerasa ngejalanin masa koas kok ya susah bener, disuruh itu, disuruh ini, kadang rada ga nyambung ma tugas koas, macem-macem d. tapi orang yang lagi rada rumit hidupnya pasti ngerasa jadi orang paling menderita sedunia :D, tul ga? benar sekali, termasuk saya :D.
kalau udah begini, harus banyak-banyak bercermin. ga usah jauh-jauh, dokter-dokter sebelah, yang lagi sekolah untuk jadi spesialis juga ribetnya bukan main. bahkan kerja dan tanggung jawabnya lebih berat dari koas. belum lagi yang udah berkeluarga, tekanan buat dirinya pasti lebih berat. mikir keluarga, mikir sekolah, mikir belajar.. jadi beliau-beliau itu harus udah hadir di rumah sakit paling lambat jam 7-an, tiap hari begitu, dan ada jaga malam sekitar 24 jam lebih -kayaknya 2 kali seminggu ada deh-, belum lagi waktu buat belajar di rumah, keluarga dll, ko bisa ya?? dan di depan pasien harus tetep manis.. risiko, dah ngambil keputusan seharusnya dah siap nerima segalanya..
dan ternyata mereka bisa ngatasinnya, toh mereka juga manusia..
jadi dimana letak salahnya? seharusnya lagu yang dipopulerkan oleh salah satu band itu, bukan satu pembenaran..
dokter juga manusia..
koas juga manusia..
seperti manusia lainnya, kita juga manusia, tapi yang penting adalah bagaimana caranya agar kita menjadi manusia yang istimewa..
seperti Nabi Ibrahim, bagaimanapun beliau adalah manusia, yang jelas akan ada sedih yang tak terbendung ketika anak yang begitu lama dinanti diminta ALlah untuk dikembalikan pada-Nya dengan cara dikurbankan..
dan juga Siti Hajar, istrinya, yang sesaat setelah melahirkan Ismail, ditinggalkan di tengah padang pasir tanpa suatu bekal apapun. Pasti ada rasa nelansa yang luar biasa, karena Siti Hajar juga manusia. untuk para ibu pasti dah tahu ya rasanya seperti apa post partum itu, butuh perhatian, butuh istirahat, butuh suami disisinya, terasa lemah fisik dan psikis.
mereka juga manusia, tapi mereka manusia yang istimewa..
ada banyak yang istimewa di sekeliling kita, bukan hanya para nabi dan sahabat, tapi mungkin orang-orang terdekat kita, yang mampu me-manage fitrah kemanusiaannya menjadi kekuatan yang istimewa..
jadi .. pesan seorang sahabat: bagaimanapun kondisi kita sebagai manusia yang sangat rapuh dan lemah, dengan semangat naik turun, ingatlah kembali pada mereka, bercerminlah pada mereka..
karena mereka bukan manusia biasa
mereka adalah manusia-manusia langit yang tetap berpijak di bumi
mereka adalah manusia istimewa yang obsesinya adalah akhirat..
subhanallah..
akhir-akhir ini sering d denger temen2 menyenandungkan kalimat itu.. terus ga lama abis itu, ada yang nyanyi juga..
dokter juga manusia..
setelah beberapa hari disana, kadang ada temen yang sempet kepikiran yakin ni mau jadi dokter, termasuk saya :D. bukan apa-apa, kadang kerasa rada berat bebannya, kadang ngerasa ngejalanin masa koas kok ya susah bener, disuruh itu, disuruh ini, kadang rada ga nyambung ma tugas koas, macem-macem d. tapi orang yang lagi rada rumit hidupnya pasti ngerasa jadi orang paling menderita sedunia :D, tul ga? benar sekali, termasuk saya :D.
kalau udah begini, harus banyak-banyak bercermin. ga usah jauh-jauh, dokter-dokter sebelah, yang lagi sekolah untuk jadi spesialis juga ribetnya bukan main. bahkan kerja dan tanggung jawabnya lebih berat dari koas. belum lagi yang udah berkeluarga, tekanan buat dirinya pasti lebih berat. mikir keluarga, mikir sekolah, mikir belajar.. jadi beliau-beliau itu harus udah hadir di rumah sakit paling lambat jam 7-an, tiap hari begitu, dan ada jaga malam sekitar 24 jam lebih -kayaknya 2 kali seminggu ada deh-, belum lagi waktu buat belajar di rumah, keluarga dll, ko bisa ya?? dan di depan pasien harus tetep manis.. risiko, dah ngambil keputusan seharusnya dah siap nerima segalanya..
dan ternyata mereka bisa ngatasinnya, toh mereka juga manusia..
jadi dimana letak salahnya? seharusnya lagu yang dipopulerkan oleh salah satu band itu, bukan satu pembenaran..
dokter juga manusia..
koas juga manusia..
seperti manusia lainnya, kita juga manusia, tapi yang penting adalah bagaimana caranya agar kita menjadi manusia yang istimewa..
seperti Nabi Ibrahim, bagaimanapun beliau adalah manusia, yang jelas akan ada sedih yang tak terbendung ketika anak yang begitu lama dinanti diminta ALlah untuk dikembalikan pada-Nya dengan cara dikurbankan..
dan juga Siti Hajar, istrinya, yang sesaat setelah melahirkan Ismail, ditinggalkan di tengah padang pasir tanpa suatu bekal apapun. Pasti ada rasa nelansa yang luar biasa, karena Siti Hajar juga manusia. untuk para ibu pasti dah tahu ya rasanya seperti apa post partum itu, butuh perhatian, butuh istirahat, butuh suami disisinya, terasa lemah fisik dan psikis.
mereka juga manusia, tapi mereka manusia yang istimewa..
ada banyak yang istimewa di sekeliling kita, bukan hanya para nabi dan sahabat, tapi mungkin orang-orang terdekat kita, yang mampu me-manage fitrah kemanusiaannya menjadi kekuatan yang istimewa..
jadi .. pesan seorang sahabat: bagaimanapun kondisi kita sebagai manusia yang sangat rapuh dan lemah, dengan semangat naik turun, ingatlah kembali pada mereka, bercerminlah pada mereka..
karena mereka bukan manusia biasa
mereka adalah manusia-manusia langit yang tetap berpijak di bumi
mereka adalah manusia istimewa yang obsesinya adalah akhirat..
subhanallah..
Wednesday, 19 January 2005
dalam hujan
Kabut mulai menghampiri wajahnya. Satu persatu bulir mulai menghangat di pipinya. Ia kini sendiri, walau sebenarnya sepi telah menjadi bagian dirinya.
***
Re, langit mulai mendung. Yuk ke rumah sakit.
Iya Na, hayu..
Mereka berdua bergegas membawa payung berukuran besar, dengan warna yang mencolok.
Moga hujan cukup deras hari ini, harap Re dalam hati.
Benar, baru sepuluh meter dari tempat mereka menghabiskan siangnya, tiba-tiba byuurr, hujan turun dengan derasnya. Re memandang Na. Na tersenyum nakal. Lalu mereka berdua berlari sekencang-kencangnya.
Pasti aku duluan yang dapat tumpangan.
Ngga, aku yang bakal duluan dapat
Teriak keduanya, hendak mengalahkan riuh hujan.
Re tiba duluan di rumah sakit. Lalu..
Bu, payungnya bu, hujannya deras bu.
Tak berhasil dengan seorang ibu muda yang mengapit dua anaknya, ia beralih ke seorang pria dewasa yang sedang menahan dingin dari balik jaketnya.
Pak, diantar pak, payungnya pak..
Merasa gagal juga, kini Re berusaha merayu Pak tua yang sedang asik memandangi hujan. Tiba-tiba ekor matanya menangkap payung milik Na, ada seorang ibu dengan tas yang cukup besar sedang menelusuri jalan rumah sakit. Di belakangnya Na mengiringi. Saat mata mereka beradu, Na tersenyum girang, merasa menang dari Re. Senyum yang samar, karena bentuknya mulai beradu dengan dingin.
Re kini kedinginan. Kakinya tak beralas. Bajunya mulai basah kuyup. Tak lama kemudian seorang wanita berkaca minus mendekatinya.
Dek, antar sampai sana ya.
Mata Re berbinar, tatapannya menyapu teras rumah sakit, tapi Na belum kembali. Ia ingin memamerkan betapa dirinya merasakan sedikit kehangatan saat sang wanita mengajaknya bersama berjalan di bawah payung, tak seperti kebanyakan pemakai jasanya yang membiarkan ia menggigil kedinginan karena tertinggal di belakang mereka. Sayang Na tak melihatnya. Padahal Re tahu, pasti Na akan sangat iri. Lalu Re bisa tersenyum puas karena menang kali ini.
Sekembalinya mengantar wanita tadi, Re lantas mengitari teras, mencari Na. tapi masih belum tampak batang hidungnya. Tak lama di sudut jalan menyembul payung biru, payung andalan Na. Senyum mulai menghiasi wajah Re.
Mendapati Re di teras rumah sakit, Na pun tak kalah girangnya. Ia mulai mempercepat langkahnya. Tak sabar ia pun berlari. Tapi jalanan licin membuatnya terjatuh. Na bergegas bangkit, tapi terlambat. Dari arah yang berlawanan muncul mobil sedan dengan kecepatan tinggi. Lalu.. BLAM..
***
Air mata Re tak bisa dibedakan dengan hujan. Na kini terkulai. Re hanya bisa berbisik lemah..
Na, ibu tadi memberi uang lebih, tak seperti biasanya. Jadi hari ini kita bisa makan enak di warung mpok Mini. Bangun Na. Kamu baru dapat satu tumpangan hari ini. Hujan masih turun dengan derasnya. Bangun Na. Lalu kita berlomba lagi.
***
Re, langit mulai mendung. Yuk ke rumah sakit.
Iya Na, hayu..
Mereka berdua bergegas membawa payung berukuran besar, dengan warna yang mencolok.
Moga hujan cukup deras hari ini, harap Re dalam hati.
Benar, baru sepuluh meter dari tempat mereka menghabiskan siangnya, tiba-tiba byuurr, hujan turun dengan derasnya. Re memandang Na. Na tersenyum nakal. Lalu mereka berdua berlari sekencang-kencangnya.
Pasti aku duluan yang dapat tumpangan.
Ngga, aku yang bakal duluan dapat
Teriak keduanya, hendak mengalahkan riuh hujan.
Re tiba duluan di rumah sakit. Lalu..
Bu, payungnya bu, hujannya deras bu.
Tak berhasil dengan seorang ibu muda yang mengapit dua anaknya, ia beralih ke seorang pria dewasa yang sedang menahan dingin dari balik jaketnya.
Pak, diantar pak, payungnya pak..
Merasa gagal juga, kini Re berusaha merayu Pak tua yang sedang asik memandangi hujan. Tiba-tiba ekor matanya menangkap payung milik Na, ada seorang ibu dengan tas yang cukup besar sedang menelusuri jalan rumah sakit. Di belakangnya Na mengiringi. Saat mata mereka beradu, Na tersenyum girang, merasa menang dari Re. Senyum yang samar, karena bentuknya mulai beradu dengan dingin.
Re kini kedinginan. Kakinya tak beralas. Bajunya mulai basah kuyup. Tak lama kemudian seorang wanita berkaca minus mendekatinya.
Dek, antar sampai sana ya.
Mata Re berbinar, tatapannya menyapu teras rumah sakit, tapi Na belum kembali. Ia ingin memamerkan betapa dirinya merasakan sedikit kehangatan saat sang wanita mengajaknya bersama berjalan di bawah payung, tak seperti kebanyakan pemakai jasanya yang membiarkan ia menggigil kedinginan karena tertinggal di belakang mereka. Sayang Na tak melihatnya. Padahal Re tahu, pasti Na akan sangat iri. Lalu Re bisa tersenyum puas karena menang kali ini.
Sekembalinya mengantar wanita tadi, Re lantas mengitari teras, mencari Na. tapi masih belum tampak batang hidungnya. Tak lama di sudut jalan menyembul payung biru, payung andalan Na. Senyum mulai menghiasi wajah Re.
Mendapati Re di teras rumah sakit, Na pun tak kalah girangnya. Ia mulai mempercepat langkahnya. Tak sabar ia pun berlari. Tapi jalanan licin membuatnya terjatuh. Na bergegas bangkit, tapi terlambat. Dari arah yang berlawanan muncul mobil sedan dengan kecepatan tinggi. Lalu.. BLAM..
***
Air mata Re tak bisa dibedakan dengan hujan. Na kini terkulai. Re hanya bisa berbisik lemah..
Na, ibu tadi memberi uang lebih, tak seperti biasanya. Jadi hari ini kita bisa makan enak di warung mpok Mini. Bangun Na. Kamu baru dapat satu tumpangan hari ini. Hujan masih turun dengan derasnya. Bangun Na. Lalu kita berlomba lagi.
kangen..
kenapa tidak ada kalian disini? yang lingkaran di dalamnya kita penuhi dengan cita dan impian. lalu ada senyum manja, untaian nasehat lewat mata, kata dan tingkah kalian. disana selalu ada garis yang mengantarkan bumi menemui langit. ada kisah yang terukir, karena kita bersama menamai hari dan membingkainya di lembar cerita.
kangennya ma kalian.. kangen banget
kangennya ma kalian.. kangen banget
gendut putih
Masih ingat dengan gendut? –kalo lupa atau belum pernah tahu, buka arsip bulan desember d-. Nah sekarang ingin cerita lagi tentang mereka. Alhamdulillah gendut putih, yang saat itu sempat dicemaskan kondisinya, dah pulih lagi. Malah dia yang sangat lincah dibanding ikan-ikan lainnya. Dah setelah agak-agak sedikit rajin mengamati mereka, ternyata gendut putih itu emang hobi berenang kebalik-balik gitu, apalagi kalo dah makan kenyang :D
Tiap lihat ikan lain di tempat lain, pasti komentar pertama: ga ada yang selucu gendut dan kawan-kawan :D –maklum, lom pernah lihat yang lebih lucu dari mereka-. Gimana ga lucu, kalau lagi pada laper, ikan-ikan itu akan bengong di sudut kiri akuarium dan menghadap ke kiri dengan sudut 45 derajat. Tanpa di komando semuanya begitu –tentu saja tanpa gendut putih yang masih dengan lincahnya berenang-renang-. Nah, kalau udah begitu mulai deh jalan mengendap-ngendap sambil bawa makanan ikan ke depan akurium. Pas tepat berdiri di depan akurium, mereka langsung tersadar dari lamunannya :D. lalu berenang ke tengah –bagian depan akurium-, mulai cari perhatian, tau aja kalau mau dikasih makan. Tapi gitu makanan dah berpindah ke dalam akuarium, dalam waktu sekejap mereka cuek lagi ma tuannya. Duh dasar ikan-ikan.
Tapi bener d, gendut putih itu lucu bener, paling suka liat gendut putih berenang, perutnya goyang kanan, goyang kiri. lucu banget :D :D :D. Btw hari ini dah ngasih mereka makan lom ya? :p
Tiap lihat ikan lain di tempat lain, pasti komentar pertama: ga ada yang selucu gendut dan kawan-kawan :D –maklum, lom pernah lihat yang lebih lucu dari mereka-. Gimana ga lucu, kalau lagi pada laper, ikan-ikan itu akan bengong di sudut kiri akuarium dan menghadap ke kiri dengan sudut 45 derajat. Tanpa di komando semuanya begitu –tentu saja tanpa gendut putih yang masih dengan lincahnya berenang-renang-. Nah, kalau udah begitu mulai deh jalan mengendap-ngendap sambil bawa makanan ikan ke depan akurium. Pas tepat berdiri di depan akurium, mereka langsung tersadar dari lamunannya :D. lalu berenang ke tengah –bagian depan akurium-, mulai cari perhatian, tau aja kalau mau dikasih makan. Tapi gitu makanan dah berpindah ke dalam akuarium, dalam waktu sekejap mereka cuek lagi ma tuannya. Duh dasar ikan-ikan.
Tapi bener d, gendut putih itu lucu bener, paling suka liat gendut putih berenang, perutnya goyang kanan, goyang kiri. lucu banget :D :D :D. Btw hari ini dah ngasih mereka makan lom ya? :p
Saturday, 15 January 2005
jika tak mengapa
Bagaimana?
Sudah. Sudah selesai.
Iya, tapi bagaimana?
Hihi, nanyanya itu lho, kesannya bagaimana gitu..
Duh ni anak, pertanyaannya belum dijawab tuh.
Loh, kan dah dijawab dari tadi: sudah. Semuanya selesai.
Lalu?
Lalu, ya berakhir.
Jadi?
Ya ampun ko berbelit gitu nanyanya. Begini, pernah lihat serial tv atau pertunjukan drama. Nah ada episode, ada babak-babaknya bukan? sama. Ini juga episode. Dan episode kali ini telah berakhir. Jadi, ya sudah.
Mmm
Masih penasaran yak? Doakan saja, berlalunya babak ini bukan tanpa hikmah. Ada banyak harmoni yang bisa ku kutip dari sana untuk berperan dalam putaran waktu berikutnya. Tak mengapa, jadi jangan seperti itu memandangku. Matamu sudah cukup menembus semua relung yang ingin aku jaga. Jangan pernah mengusiknya lagi dengan tanyamu. Setuju?
Mmm. jadi sudah?
Iya, cantik. Harus berapa kali dijawab pertanyaan itu. Yuk bergegas, masih banyak hal yang menunggu untuk kita lakukan bersama.
***
Tapi.. jika benar tak mengapa, lalu kenapa senyummu berbeda kali ini?
Sudah. Sudah selesai.
Iya, tapi bagaimana?
Hihi, nanyanya itu lho, kesannya bagaimana gitu..
Duh ni anak, pertanyaannya belum dijawab tuh.
Loh, kan dah dijawab dari tadi: sudah. Semuanya selesai.
Lalu?
Lalu, ya berakhir.
Jadi?
Ya ampun ko berbelit gitu nanyanya. Begini, pernah lihat serial tv atau pertunjukan drama. Nah ada episode, ada babak-babaknya bukan? sama. Ini juga episode. Dan episode kali ini telah berakhir. Jadi, ya sudah.
Mmm
Masih penasaran yak? Doakan saja, berlalunya babak ini bukan tanpa hikmah. Ada banyak harmoni yang bisa ku kutip dari sana untuk berperan dalam putaran waktu berikutnya. Tak mengapa, jadi jangan seperti itu memandangku. Matamu sudah cukup menembus semua relung yang ingin aku jaga. Jangan pernah mengusiknya lagi dengan tanyamu. Setuju?
Mmm. jadi sudah?
Iya, cantik. Harus berapa kali dijawab pertanyaan itu. Yuk bergegas, masih banyak hal yang menunggu untuk kita lakukan bersama.
***
Tapi.. jika benar tak mengapa, lalu kenapa senyummu berbeda kali ini?
Friday, 14 January 2005
sayap patah
Ia baru beranjak. Ia tak pernah bisa meninggalkan aku dengan diam. Ia memintaku memutar ulang semua kisah. Keping aku dan dia.
***
Saat helaian waktu yang jatuh persatu bercerita:
Rie, hari masih memintaku menemaninya
membalik dusta yang berkelana mengemis kesemuan
karena jiwa, ribu makna
dan karat hidup hanya menyisakan luka
mungkinkah aku?
Ia sedang memandang bintang dan bertanya padaku.
Sa, torehan huruf dan katamu bukan sekedar kalimat. Ia adalah mimpimu dan harap yang suatu saat kau wujudkan.
----
Rie, semua hanya menyisakan lelah
Tapi aku tak mungkin mengalah
Ia masih berbincang dengan malam.
Sa, asa yang membuatmu berarti. Mengapa tak memilih diam sejenak?.
----
Rie, aku ingin terbang tinggi bersama mereka
Tapi sepertinya sayapku patah
Dan aku hanya bermimpi mengarungi angkasa
Kini ia menatap langit. Menembus lapis demi lapisnya.
Sa, mengapa tak kau balut lukamu dan mulai belajar mengepakkan sayap?
----
Aku tak kan pernah bisa terbang Rie
Tak kan pernah bisa menatap awan tanpa sekat
Rintik membasahi malam di jendelanya. Ia seperti lebur jadi satu di sana.
Sa, bolehkah aku memintamu untuk tidak pernah menyerah?
***
Ia baru beranjak. Ia tak pernah bisa meninggalkan aku dengan diam. Tapi kisah itu kini telah berakhir.
Sa, hanya punya dunianya sendiri. Terpekur, melamun, tercenung, berteriak, menangis, terbahak-bahak. Menyembunyikan jiwa rapuh di balik baju yang membungkus rapat tubuhnya.
***
Saat helaian waktu yang jatuh persatu bercerita:
Rie, hari masih memintaku menemaninya
membalik dusta yang berkelana mengemis kesemuan
karena jiwa, ribu makna
dan karat hidup hanya menyisakan luka
mungkinkah aku?
Ia sedang memandang bintang dan bertanya padaku.
Sa, torehan huruf dan katamu bukan sekedar kalimat. Ia adalah mimpimu dan harap yang suatu saat kau wujudkan.
----
Rie, semua hanya menyisakan lelah
Tapi aku tak mungkin mengalah
Ia masih berbincang dengan malam.
Sa, asa yang membuatmu berarti. Mengapa tak memilih diam sejenak?.
----
Rie, aku ingin terbang tinggi bersama mereka
Tapi sepertinya sayapku patah
Dan aku hanya bermimpi mengarungi angkasa
Kini ia menatap langit. Menembus lapis demi lapisnya.
Sa, mengapa tak kau balut lukamu dan mulai belajar mengepakkan sayap?
----
Aku tak kan pernah bisa terbang Rie
Tak kan pernah bisa menatap awan tanpa sekat
Rintik membasahi malam di jendelanya. Ia seperti lebur jadi satu di sana.
Sa, bolehkah aku memintamu untuk tidak pernah menyerah?
***
Ia baru beranjak. Ia tak pernah bisa meninggalkan aku dengan diam. Tapi kisah itu kini telah berakhir.
Sa, hanya punya dunianya sendiri. Terpekur, melamun, tercenung, berteriak, menangis, terbahak-bahak. Menyembunyikan jiwa rapuh di balik baju yang membungkus rapat tubuhnya.
sehat itu mahal
seperti yang dah diduga, di subbag radioterapi alatnya super canggih semua. pas pertama masuk, bengong dulu, ga tau apa-apa. baru deh dijelasin ma senior. ini ruang untuk buat protesa, disini ruang simulasi, yang disana itu ruang terapinya. setelah beberapa kali mondar mandir, baru ngeberaniin diri masuk ke ruang terapi ---takut ma radiasinya. gitu masuk, di dalam ruangannya ada ruang gelap dengan sinar laser di sekelilingnya dan di tengah ruangan ada satu tempat berbaring dengan sumber sinar di atasnya. setelah itu, mulai tanya-tanya ma radiografernya. alhamdulillah bapaknya baik. ditanya satu pertanyaan, jawabannya panjang banget. tapi jadi tertolong dengan penjelasan beliau.
jadi yang ini di blok, supaya ga kena otak, yang ini dikasih tanda supaya tepat sasaran. kalau yang ini harus dikasih bolus supaya kedalamannya tetap 2 cm.
sebenarnya ga gitu paham ma penjelasan sang radiografer, apalagi ngobrolnya sambil jalan bolak balik masuk ruang radioterapi. tapi jadi tercerahkan dikit dikit. Alhamdulillah.
btw, alat-alat di dalamnya canggih bener. ga nyangka kalau ruang bawah tanah RSHS punya alat-alat mahal begini --maklum baru kali ini liat yang beginian, masih terpesona :D.
setelah beberapa jam di ruangan sinar eksterna, sekarang mampir ke ruang sinar interna. disambut dengan bapak yang juga baik. di dalem ada pasien yang lagi diterapi. duh sedih d lihatnya. selesai diterapi gitu, beliau nangis. pas ditanya: ibu kenapa? sakit? ibu itu hanya ngegeleng sembari sesenggukan: ngga, ibu hanya sedih.
duh sedih juga lihatnya, pilu. semoga cepat sembuh ya bu.
sekitar jam 10.30 naik lagi ke atas, di bagian thorax. nyeritain pengalaman di radioterapi ke temen. dia bilang: iya si banyak pemandangan yang bikin miris disana. bener, disana berderet pasien dengan penyakit yang tak ringan. ada yang ca. recti, kanker payudara, retinoblastoma. duh Rabb, benar-benar terasa nikmat sehat itu sungguh luar biasa.
dan pas nanya berapa biayanya ma teteh yang kerja di sana, bliau bilang sepaket sekitar juta-juta begitu harganya. dan untuk radioterapi ga hanya sekali datengnya. bisa berkali-kali. jadi makin pilu, udah sakit begini, bayar mahal pula. tapi di bagian radioterapi ini masih menerima pasien dengan kartu askes, jadi bisa terbantu dikit-dikit.
bener, sehat itu mahal harganya.
hayu2 jaga kesehatan, perhatiin makan, minum, olahraga jangan lupa, hindari rokok, alkohol, junk food..
selamat hidup sehat
jadi yang ini di blok, supaya ga kena otak, yang ini dikasih tanda supaya tepat sasaran. kalau yang ini harus dikasih bolus supaya kedalamannya tetap 2 cm.
sebenarnya ga gitu paham ma penjelasan sang radiografer, apalagi ngobrolnya sambil jalan bolak balik masuk ruang radioterapi. tapi jadi tercerahkan dikit dikit. Alhamdulillah.
btw, alat-alat di dalamnya canggih bener. ga nyangka kalau ruang bawah tanah RSHS punya alat-alat mahal begini --maklum baru kali ini liat yang beginian, masih terpesona :D.
setelah beberapa jam di ruangan sinar eksterna, sekarang mampir ke ruang sinar interna. disambut dengan bapak yang juga baik. di dalem ada pasien yang lagi diterapi. duh sedih d lihatnya. selesai diterapi gitu, beliau nangis. pas ditanya: ibu kenapa? sakit? ibu itu hanya ngegeleng sembari sesenggukan: ngga, ibu hanya sedih.
duh sedih juga lihatnya, pilu. semoga cepat sembuh ya bu.
sekitar jam 10.30 naik lagi ke atas, di bagian thorax. nyeritain pengalaman di radioterapi ke temen. dia bilang: iya si banyak pemandangan yang bikin miris disana. bener, disana berderet pasien dengan penyakit yang tak ringan. ada yang ca. recti, kanker payudara, retinoblastoma. duh Rabb, benar-benar terasa nikmat sehat itu sungguh luar biasa.
dan pas nanya berapa biayanya ma teteh yang kerja di sana, bliau bilang sepaket sekitar juta-juta begitu harganya. dan untuk radioterapi ga hanya sekali datengnya. bisa berkali-kali. jadi makin pilu, udah sakit begini, bayar mahal pula. tapi di bagian radioterapi ini masih menerima pasien dengan kartu askes, jadi bisa terbantu dikit-dikit.
bener, sehat itu mahal harganya.
hayu2 jaga kesehatan, perhatiin makan, minum, olahraga jangan lupa, hindari rokok, alkohol, junk food..
selamat hidup sehat
Subscribe to:
Posts (Atom)
Iri
Ingin rasanya berada bersisian, berdampingan dengan teman-teman di lapangan yang sedang berjibaku tak kenal henti. Mereka diberi kesempa...
-
komik makin mahal aja, dah ga sanggup lagi dah belinya :P, jalan cerita hampir sebagian besarnya sama, meski cara menyajikannnya beda-beda, ...
-
Tanganku hanya dua. Yang setiap harinya kupakai untuk menghidupi mereka dan membuat diriku juga tetap “hidup”. Jemari ini rasanya kian hari ...