Tanganku hanya dua. Yang setiap harinya kupakai untuk menghidupi mereka dan membuat diriku juga tetap “hidup”. Jemari ini rasanya kian hari kian kasar. Tak sehalus dulu saat bunda setiap hari menimangku.
Satu, dua, tiga.. Kuhitung perlahan jumlah karung yang berhasil aku pindahkan hari ini. Lumayanlah, menjelang idul fitri begini proyek kerjaanku setidaknya bertambah, walaupun sedikit. Namun saat kuhitung kembali lembaran uang di tanganku, jumlahnya tak seperti yang kuharapkan. Tampaknya tukang jagal itu berhasil memotong jatah kami terlebih dahulu. Kuhela napas perlahan seraya meninggalkan tempat ini. Aku berjalan ditemani rumitnya pikiranku. Reno minta sandal baru, sandal yang kemarin talinya putus saat ia harus berlarian mengejar bus. Ais sekarang semakin kurus, bukan karena kami hanya memiliki sedikit uang untuk makan tapi ia sendiri tidak suka makan. Dan aku, entahlah, aku tak ingin menjadi orang egois di saat seperti ini. Melihat senyum manis mereka saat menyambutku pulang membawa kantong plastik saja sudah sangat membahagiakanku.
***
Terik sekali. Sudah beberapa hari terakhir ini puasa sangat terasa. Udara Bandung semakin panas. Sesekali tergiur juga melihat segarnya minuman warna warni di taman kota. Kulirik sekilas jam yang terpajang di toko depan. Dua jam lagi berbuka. Aku harus bergegas. Reno dan Ais pasti menungguku di ujung Bandung ini, Cileunyi.
Ramai. Semua orang sedang mempersiapkan kemeriahan idul fitri. Mungkinkah mereka juga sibuk dengan ramadhan yang tinggal sehari ini? Setahuku Reno selalu bersedih jikalau mentari ramadhan kan berganti. “Mas, kita masih kan dipertemukan dengan ramadhan mendatang tidak ya?” Begitu selalu tanyanya tiap kali takbir berkumandang di akhir ramadhan. Reno juga yang selalu mengingatkanku untuk menahan lapar dan haus selama ramadhan ini, walau bagaimanapun beratnya pekerjaanku. “Mas,
toh tidak ada orang yang meninggal karena berpuasa, malu mas
wong anak SD aja shaum kok.”
Reno adikku, ia yang menyejukkan rumah kami –walau hanya sepetak ruang-. Sejak tidak sekolah lagi, harinya dihabiskan untuk berjualan dan berdiam diri di masjid. Ia berteman dengan mereka yang menundukkan pandangan dan berjenggot tipis, entah siapa mereka. Aku juga tidak mengenalnya, aku kan jarang dirumah. Tapi yang aku tahu Reno semakin alim sejak berteman dengan mereka, jadi aku biarkan saja.
Dan Reno kecilku kini semakin beranjak remaja. Tapi ia tak seperti kebanyakan anak ABG –yang bagaimanapun kondisi ekonominya- berlomba-lomba menyaingi idola mereka. Reno lebih senang mengasuh Ais yang sekarang seharusnya sudah duduk di kelas 2 SD.
Aku tersenyum. Reno dan Ais, merekalah yang membuatku selalu ingin bekerja.
Langit sudah semakin gelap. Kini di tanganku sudah ada sepasang sandal baru dan jepit lucu untuk Ais. Mungkin aku baru akan tiba satu setengah jam lagi di Cileunyi. Tapi aku percaya Reno, pasti ia telah mempersiapkan makanan ala kadarnya untuk ia dan Ais. Perlahan kutuju masjid di taman kota, saat air segar membasuh wajahku, teringat kembali pertanyaan Reno: “mas, kita masih kan dipertemukan dengan ramadhan mendatang tidak ya?”.
Tiba-tiba aku jadi kangen dengan mereka. Reno, Ais, mas sayang Reno dan Ais.
Uhh, ingin sekali segera terbang ke sana dan memeluk mereka erat.
***
Cileunyi, saat azan magrib berkumandang.
Ada lafaz doa dalam diamnya seorang anak:
“Rabb, pertemukan kami kembali dengan ramadhan mendatang. Rabb, Reno sayang mas Tio dan Ais karena Engkau. Dan Rabb satukan Reno, mas Tio dan Ais dalam surga-Mu kelak ya Rabb. Amin.”